speedboat itu tua dan karatan, bentuknya datar mirip papan skateboard, berbeda dengan bentuk speedboat-speedboat umumnya, speedboat itu juga cenderung untuk tenggelam apabila didiamkan, hanya kecepatan tinggilah yang membuatnya tetap mengapung. si driver speedboat tua itu mengendarai speedboat nya dengan kecepatan tinggi, bersama saya, dan satu orang lagi figuran, wanita, tapi entah siapa, mukanya tidak jelas, blur. si driver memacu speedboatnya dengan kecepatan tinggi, berkelok kelok, menghindari batu batu besar, aneh juga karena sungai ini sungai dalam, tetapi banyak batu batuan, gabungan antara sungai musi dan sungai yang biasa dipakai untuk berarung jeram. dan kita sekarang sedang menuju hilir dari sungai ini, laut.
di tengah perjalanan barang berharga saya jatuh, entah itu apa, tapi saya liat benda itu mengapung apung di belakang speedboat yang makin lama makin jauh karena ketinggalan. lalu saya bilang ke driver speedboat “pak, bisakah kita kembali? barang saya ada yang jatuh”. si driver diam saja malah makin memacu speedboatnya menuju laut, saya cuma bisa pasrah, yasudahlah ya. laut sudah semakin dekat, terlihat ada ombak di kejauhan, dan si driver semakin bersemangat menambah kecepatan, lalu kita menghantam ombak, speedboat terbang, berputar tiga kali di udara, secara slow motion, saya terjatuh di laut, untung bisa berenang, jadi saya bisa mengapung.
mbak mbak figuran yang mukanya blur tadi hilang entah kemana, mungkin dia tidak bisa berenang, saya terapung-apung di laut, di dekat saya ada benda berharga saya yang tadi jatuh di jalan juga mengapung, “rejeki memang tidak kemana” kata saya dalam hati. tak jauh dari saya ada speedboat yang tadi membawa saya, lengkap dengan drivernya yang tiba tiba berjenggot lebat, tubuhnya bersinar, dan berkata kepada saya dengan bijaknya, terkait barang berharga saya tadi :
“sesuatu yang dari hulu, pasti akan sampai ke hilir pipin…”
lalu gw bangun, mimpi yang aneh, haha, baru tidur jam 2, baru nyampe dari jakarta, abis nganter Professor Polat Gulkan ke airport.