desain rumah sempit dan panjang

berhubung rumah gw (yang sekarang) juga sempit, cuma ukuran 3×15 meter. jadi ini copy paste desain rumah kecil keren deh, siapa tau nanti butuh kalau mau renovasi. DESAIN 1

DESAIN 2
DESAIN 3
DESAIN 4

Islam dan Syiar Dakwah Nusantara

nyontek tulisannya Ustadz Salim a Fillah, karena penting, mohon maaf tadz…

Islam. Betapa kata ini  sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah.

Adalah Imam Al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah kisah dari Thariq ibn Syihab, bahwa telah datang seorang laki-laki dari kalangan Ahli Kitab Yahudi kepada ‘Umar ibn Al Khaththab. Pria itu lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian dan kalian membacanya, sekiranya ayat itu turun kepada kami sungguh akan kami jadikan hari di waktu ayat itu turun sebagai hari raya tiap tahunnya”. Sayyidina ‘Umar bertanya kepadanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?” Lelaki Ahli Kitab itu menjawab,

“..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan atas kalian nikmat-nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian..” (QS Al Maidah [5]: 3)

Maka, Sayyidina ‘Umar menimpali, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu ketika hari Jumat bertepatan dengan hari ‘Arafah.”

Lihatlah betapa cemburu seorang Ahli Kitab, pada sebuah penyebutan dan penegasan yang gamblang dari Rabb semesta alam tentang agama yang diridhaiNya. Islam. Jadi nama risalah ini tersurat secara resmi di dalam ayat yang suci, sementara sejauh ini sulit menemukan agama lain yang mendapati namanya termaktub di kitab-kitab mereka. Umumnya, nama sebuah agama berasal dari penisbatan masyhur yang dilakukan oleh manusia dari sosok kunci atau ajaran.

Demikian pula sebutan untuk pemeluk agama ini, diumumkan dari langit dengan penuh kebanggaan, bahwa Allah sendiri yang memberi julukan sejak dahulu. Maka Islam adalah risalah seluruh Nabi dan Rasul, dan muslim adalah nama untuk para pengikut mereka di sepanjang zaman hingga kelak tiba masa pohon dan batu berbicara tentang musuh kebenaran yang bersembunyi di belakangnya.

“Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untuk kalian di dalam agama. Ikutilah agama bapak moyang kalian Ibrahim. Allah telah menamakan kalian sebagai para Muslim sejak dahulu, dan begitu pula dalam Al Quran ini, agar Rasul itu menjadi saksi atas kalian dan agar kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah pelindung kalian; sungguh sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al Hajj [41]: 78)

Ialah tali Allah yang terentang teguh menjadi pegangan ummat manusia sepanjang zaman. Maka untuk mewakili matarantai Islam dan Muslim itu, Allah memilih nama Ibrahim ‘Alaihis Salam kekasihNya. Inilah sosok yang ketika Allah perintahkan padanya, “Aslim.. Islamlah engkau!”, bergegas dia menyambut, “Aku berislam pada Rabb semesta alam.” Maka inilah agama yang mudah, luas, dan tegas. Inilah risalah yang sederhana, indah, dan menyejarah.

Bahwa pengertiannya sederhana; yakni sebersahaja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab ketika ditanya oleh Malaikat Jibril yang menyamar, apa itu Islam, dalam hadits panjang dari Sayyidina ‘Umar yang dibawakan oleh Imam Muslim. Adalah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berrumit-rumit dengan asal kata dan istilah. Tetapi menjawab dengan definisi ‘ilmiah yang ‘amaliah, “Islam itu bahwasanya engkau bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika memampuinya.”

Berpunca jaminan Allah “Kusempurnakan agama kalian” hingga makna ‘amal yang bersahaja dari Rasulullah inilah, kata “Islam” itu telah cukup, utuh, lagi menyeluruh.

Maka memberi sandaran berupa sebuah kata ataupun frasa di belakang kata Islam rasanya tidak perlu, juga merepotkan. Bahkan kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengannya menjadi “Islam Kaaffah” serta “Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin” telah bermasalah sejak pengambilan asalnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaaffah.” (QS Al Baqarah [2]: 108)

Dalam susunan ayat ini, kata “kaaffatan.. secara keseluruhannya” adalah kata keterangan untuk “udkhuluu.. masuklah kalian.” Jadi yang kaaffah adalah masuknya. Yakni masuklah secara kaaffah ke dalam Islam. Adapun kata “As Silm.. kedamaian” yang oleh Imam Ath Thabari setelah menyampaikan banyak riwayat tentang tafsirnya dari Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, As-Suddiy, Ibnu Zaid, dan Adh-Dhahhak disimpulkan sebagai “Islam”, di dalam ayat ini berdiri tunggal, tidak diberi sandaran apapun.

Sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Imam Al Baghawi bahwa ayat ini turun tentang sebagian Ahli Kitab yang ketika masuk Islam masih mengagungkan hari Sabtu dan bahkan meminta izin untuk tetap membaca Taurat dalam shalat dengan alasan bahwa ianya adalah Kalamullah; maka tuntutan ayat ini menunjukkan kesempurnaan dan kemenyeluruhan Islam yang menjadikan segala lain tak diperlukan sebab ia telah cukup lagi mencakup.

“Dan tidaklah Kami utus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’ [21]: 107)

Pun di ayat ini, kita mendapati bahwa frasa “rahmatan lil ‘aalamiin” adalah keterangan untuk “arsalnaaka.. Kami utus engkau”. Dengan demikian maknanya, rahmat semesta alam itu adalah Rasulullah. Sehingga gabungan kata yang menjadi simpulannya adalah “Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam rahmat bagi semesta alam”, dan bukan “Islam Rahmatan lil ‘Alamin.”

Ini sebagaimana yang disampaikan Imam Ath Thabari dalam Jami’ul Bayan maupun Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkamil Quran, bahwa; “Rahmat ini dalam makna umum dan merata bagi semuanya. Karena lafazh al ‘aalamiin menunjukkan makna mutlak dan menyeluruh, maksudnya rahmat untuk alam manusia, yang mukmin dan yang kafir; untuk alam Malaikat; rahmat untuk alam jin, yang mukmin dan yang kafir; dan rahmat untuk alam hewan.”

“Adapun rahmat untuk yang beriman, maka Allah telah memberikan hidayah kepada mereka, dan menanamkan iman ke dalam hati mereka. Kemudian juga memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat itu karena mereka telah mengamalkan ajaran yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan rahmat untuk orang-orang kafir, yaitu bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak langsung mengadzab mereka di dunia ini seperti Dia telah membinasakan orang-orang kafir sebelum mereka yang telah mendustakan para Nabi dan Rasul dengan penenggelaman dan pembenaman, melainkan menundanya hingga hari akhirat.”

Jadi, jika kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengan Islam telah bermasalah sejak pengambilan asalnya; kita akan lebih kesulitan lagi memberi argumentasi pada penisbatan Islam terhadap kata lain yang tak diambil dari Al Quran semisal “Liberal”, “Progresif”, atau juga “Timur Tengah” dan “Nusantara.”

***

Islam. Betapa kata ini sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah. Adapun jika kita mentafakkuri tentang Islam di Nusantara, ada hutang besar yang sudah seharusnya kita bayar. Ialah syi’ar dakwah, untuk, oleh, dan dari Nusantara bagi seluruh ummat manusia.

Meski Islam telah hadir di negeri ini sejak abad pertama Hijriah, terlacak dari surat menyurat antara Maharaja Sri Indrawarman dari Kerajaan Sriwijaya dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan dan ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, barangkali yang dapat kita catat sebagai masa dakwah paling intensif dan massif di jazirah ini adalah enam abad lalu. Untuk menyebutnya, dalam sejarah peradaban Islam kita dikenalkan dengan istilah Futuhat.

Futuhat inilah pembebasan yang dibawakan oleh Rasulullah dan para sahabat, sebagaimana Allah istilahkan bagi perjanjian Hudaibiyah; “Inna fatahna laka fathan mubiinaa.. Sesungguhnya Kami telah bukakan bagimu kemenangan yang nyata..” (QS Al Fath [48]: 1); kota Makkah “Fa ja’ala min duuni dzalika fathan qariibaa.. Maka Dia jadikan di sebalik itu kemenangan yang dekat..” (QS Al Fath [48]: 27); dan juga seluruh jazirah, “Idzaa jaa-a nashrullaahi wal fath, wa ra-aitannaasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa.. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.” (QS An Nashr [110]: 1-2)

Melihat ketiga peristiwa tersebut, sungguh indah bahwasanya Allah menunjukkan kepada kita metode-metode bagi Futuhat yang tidak tunggal, apalagi sebagaimana sering dituduhkan yakni melulu melalui peperangan. Tampak bahwa ia bisa berbentuk perundingan damai yang selepas itu membawa begitu banyak kebaikan, atau juga pengerahan kekuatan militer dengan pertumpahan darah yang amat minimal, dan pula perutusan-perutusan yang membawakan kabar gembira, peringatan, seruan, serta cahaya ini ke segala penjuru dunia.

Lalu apa nilai pencerahan yang ditawarkan oleh Futuhat ini? Mari kita kenang sebuah kalimat bersejarah. “Kami adalah kaum yang dibangkitkan Allah; untuk membebaskan manusia:

1) dari penghambaan kepada sesama makhluq, menuju peribadahan pada Khaliq semata.

2) dari sempitnya dunia, menuju luasnya akhirat.

3) dari kezhaliman agama-agama, menuju keadilan Islam.”

Jawaban indah ini menjadi syi’ar Futuhat. Mulai dari Sa’d ibn Abi Waqqash sang panglima besar, Al Mughirah ibn Syu’bah sang komandan lapangan, hingga Ribi’ ibn Amir si prajurit kecil dalam kesempatan berbeda menyatakannya dengan amat kompak kepada Rustum, panglima agung Persia dalam pertempuran Qadisiyah.

Maka “tangan Allah bersama jama’ah”. Jika Musa ‘Alaihis Salaam yang berkata “Inna ma’iya Rabbi sayahdin.. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk padaku” dibelahkan laut untuknya, hingga kaumnya menyeberang dalam takut diapit gelombang besar yang menggunung; pasukan Sa’d ibn Abi Waqqash bergandeng tangan menyeberangi lebar dan derasnya arus Dajlah dengan karamah yang membuat musuh terperangah. Selama tiga nilai Futuhat ini dipelihara; jadilah ia da’wah yang mencahayai semesta.

Tapi sejarah kita juga berisi pengalaman tentang bagaimana kiranya jika nilai-nilai Futuhat ini tidak dijaga.

Di Andalusia, saat raja-rajanya berrebut memperbudak kulit putih hingga jangat hitam dan rambut pirang hingga mata biru; kekuasaan 7 abad di sana jadi sedikit sekali membawakan ruh dakwah. Seperti digambarkan Ahmad Thompson dalam Islam in Andalus, kolam-kolam khamr direnangi dalam pesta, permainan optik dan air raksa menakutkan duta-duta Franka, bebangunan indah lagi rumit menjulang, ornamen-ornamen ukir dan keramik menakjubkan, pun Ziryab mengenalkan fine dining hingga mode pakaian tiap musim. Tapi bangsa keturunan Visigoth melihat itu semua sebagai lambang penjajahan.

alhambra-granada

Saat kuasanya rapuh dan antar penguasanya rusuh, Ferdinand dari Arragon dan Isabella dari Castillia memulai reconquesta. Satu per satu; Cordoba, Malaga, Huelva, Toledo, Sevilla, Almeria, dan akhirnya Granada jatuh. Maka tergulunglah muslimin nyaris tanpa sisa hingga bukit tempat sang Sultan terakhir menangisi lepasnya daulah terujung diberi nama “El Ultimo Sospiro del Moro”; desah nafas terakhir orang Mor. Dan hingga hari ini, Spanyol dan Portugal di semenanjung Iberia masih mencatatkan diri dalam tingkat Islamophobia yang amat tinggi.

andalusia_rondacanyon

Empat abad lamanya pula, muslim Mughal memerintah tiga perempat anak benua. Tapi seperti ditangisi Aurangzab Alamghir tentang Syah Jahan ayahnya; ketika cinta pada 1 perempuan mengorbankan 30.000 budak Hindu yang dibunuh sebakda diperas tenaganya untuk pembangunan kuburan mewah bernama Taj Mahal serta 3 tahun kas negara bangkrut dan pajak dipungut paksa demi pembangunannya. Hari ini, hanya sepuluh perratus kaum muslimin tersisa di negeri Bharata, India.

Adapun Nusantara ini diasasi berkah da’wah para Wali dan Sultan Demak. Inilah kesultanan yang mampu mengerahkan 300 kapal untuk berjihad melawan Portugis di Malaka; tapi bahkan sisa istananya tak ditemukan. Sebab, demikian menurut sebagian sejarawan, Sultannya amat bersahaja, hingga tempat tinggalnya pun tak jauh beda dengan rakyatnya. Ia menjadi kontras dengan Majapahit yang sudah lemah dan remuk oleh paregreg serta kesewenang-wenangan, tapi tetap bermewah-megah para penguasanya.

100_2727

Para Sultan inipun tunduk pada Majelis Syuraa para ‘Ulama di Masjidnya. Mereka, dengan gelar “Sunan” di depan nama, menjadi pelanjut dari generasi dakwah sebelumnya yang penuh hikmah. Dan sahibul hikayat berkisah, sejak catatan kelana Ibn Batuththah “Ar Rihlah” dihadiahkan Sultan Maroko kepada Muhammad I dari Daulah ‘Utsmaniyah di Turki, dengan penuh semangat sang Sultan-Ghazi mengirimkan da’i-da’i tangguh ke kepulauan ini.

Sebagai gambaran tentang betapa terrencana dan rapinya kerja tim Futuhat ini dalam merancang syi’ar dakwah Nusantara, sebuah Kropak rangkaian lontara yang tersimpan di Ferrara, Italia, ternyata mencatat isi rapat para Wali itu dan merangkum pengajaran-pengajaran yang mereka sepakati dalam mendakwahi masyarakat Jawa saat itu. Jauh sebelum itu, Het Boek van Bonang telah menjadi rujukan para sejarawan untuk melacak strategi dakwah yang dahsyat dari tim yang masyhur dikenal sebagai Wali Sanga ini.

Dahsyat, sebab, betapapun mereka belum sempurna menunaikan tugas dakwahnya, dan siapakah memangnya yang sempurna dalam dakwah selain Rasulullah; tapi hingga hari ini, belum ada lagi satu tim beranggotakan hanya beberapa mu’allim yang dalam waktu kurang dari 50 tahun atas izin Allah mampu menjadikan sebuah kerajaan besar yang tegak dengan Hindu dan Budha sebagai agama resmi, nyaris semua penduduk jazirah intinya bersyahadat. Belum lagi nantinya kita melihat, bagaimana pusat pendidikan mereka di Ampel, Giri, Kadilangu, Kudus, dan Cirebon  mendidik para calon ‘Ulama dan Sultan untuk Banten, Banjar, Mataram, Gowa, Ternate, Tidore, Bima, hingga Palembang.

Menyimak bagaimana misalnya Maulana Malik Ibrahim yang ahli irigasi dan persawahan menjawab persoalan pangan; bagaimana Maulana Maghribi I yang ahli ruqyah mengalahkan para dukun, klenik, tempat angker, dan sihir; bagaimana Maulana Ahmad Jumadil Kubra mendakwahi para penduduk gunung yang dikeramatkan; bagaimana Maulana ‘Aliyuddin dan Taqiyyuddin menekuni pengajaran di pelabuhan-pelabuhan; bagaimana Maulana ‘Ali Rahmatullah mendirikan sekolah kasatriyan di Ampeldenta untuk mengatasi krisis ketatanegaraan Majapahit; bagaimana Sunan Ngudung dan Maulana Ja’far Ash Shadiq menjawab persoalan strategi perang dan keprajuritan; hingga bagaimana Sunan Kalijaga menggubah budaya Islami untuk memassifkan tabligh; kita semakin takjub tentang bagaimana tim ini bekerja.

Maka inilah hutang besar kita, pada bangsa kita sendiri maupun dunia, sebuah syi’ar dakwah Nusantara.

Hutang terhadap diri sendiri sebab hari-hari ini kita berada di masa maraknya syi’ar namun sering tak terpimpin, tanpa arah, dan tak jelas hendak menuju mana dan meraih capaian apa; hingga kitapun susah menyebutnya “dakwah” apatah lagi “Futuhat”. Tak usah sejauh itupun, sejak kemerdekaan Republik Indonesia beberapa sensus telah digelar, dan prosentase jumlah ummat Islam terus menurun.

Litbang Kementerian Agama juga pernah merilis data, bahwa antara tahun 1970-an hingga 1990-an awal, buku-buku yang terbit di kalangan ummat Islam didominasi wacana Islamisasi pengetahuan, ekonomi Islam, hingga Politik Islam. Maka kitapun memanennya di akhir periode itu dengan tumbuhnya Ikatan Cendikiawan Muslim, ekonomi syari’ah, perbankan syari’ah, hingga kesadaran politik Islam.

Sebaliknya, antara tahun 1990-an akhir hingga hari ini, buku yang terbit kebanyakannya kembali mempertajam sisi-sisi khilafiyah furu’iyyah di kalangan ummat, antar ormas Islam, organisasi dakwah, dan antar harakah. Detail sekali peruncingan perbedaan itu hingga kitapun kembali memanennya dalam bentuk sensitifnya lagi soal-soal yang sebenarnya bertahun lalu telah diredam oleh para ‘Ulama dan Zu’ama dengan amat bijak.

Maka kalau hari ini dalam bingkai Islam Nusantara, tawassuth didengungkan dengan eksklusif seakan hanya kelompok kita yang moderat, tawazun didalilkan dengan jumawa seakan hanya kelompok kita yang seimbang, i’tidal dilanggamkan dengan nyaring seakan hanya kelompok kita yang tegak lurus, dan tasamuh didendangkan dengan nada tinggi seakan hanya kelompok kita yang toleran; kita justru sungguh khawatir ada bias terhadap syi’ar dakwah Nusantara yang menyentuh hati, merangkul, melayani, menyatukan, dan memberdayakan.

Belum lagi hutang kita pada Sultan Muhammad I yang mengirim da’i-da’inya ribuan mil, juga hutang kita pada para ‘ulama yang menempuh perjalanan jauh dan berbahaya, dan ukhuwah Islamiyah Mesir hingga Palestina yang diunjukkan penuh bangga mendukung kemerdekaan Indonesia. Seperti kaidah “Pay It Forward”, kita tertuntut pula membayarnya dengan membawa syi’ar dakwah Nusantara ini pada Eropa, Amerika, Australia, hingga Cina. Bahwa hari-hari ini, komunitas muslim Nusantara di berbagai negeri kian menunjukkan peran dakwah mereka bersama saudara-saudaranya dari berbagai bangsa, semoga ianya bagian dari kabar gembira untuk masa depan.

Sebagai penutup, izinkan kami menyampaikan sebuah kisah.

Imam Muhammad Abu 'Anzah (berblangkon) dari Gaza mengimami Tarawih di Jogokariyan.

Suatu saat kami sedang duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya“, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama dan Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaallah.”

ramadhan 2015, rentang waktu ini harus ke catet nih, karena penting banget, yaitu adalah hari harinya saya :)

fighting!!!

segala sesuatu tentang cinta

Kalian berkata : “cinta tidak tergantung pada kehendak dan ikhtiar kita tetapi karena tuntutan fitrah kita. saya misalnya mencintai makanan yang lezat dan buah buahan yang baik. saya juga mencintai orang tua, anak-anak, dan isteri. saya mencintai kekasih dan sahabat. saya mencintai para nabi dan wali. saya mencintai masa muda dan kehidupanku. saya pun  mencintai musim semi dan segala sesuatu yang indah serta dunia. bagaimana mungkin saya tidak mencintai semua ini? bagaimana saya mampu mempersembahkan seluruh rasa cinta ini kepada Dzat, nama-nama, dan sifat-sifat Allah swt? apa makna dari semua ini?

sebagai jawabannya kalian harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

pertama
meskipun rasa cinta tidak muncul karena kehendak dan ikhtiar kita, namun dengan ikhtiar yang ada arahnya bisa diubah dari kecintaan pada suatu obyek menuju pada obyek yang lain. Misalnya ketika keburukan dan hakikat dari sesuatu yang dicintai telah tampak, atau ketika diketahui bahwa ia menjadi penghalang atau cermin bagi Kekasih hakiki yang layak dicintai, arah cinta bisa dialihkan dari kekasih yang hanya bersifat metafora kepada kekasih hakiki.

kedua
kami tidak menyuruh agar engkau tidak mencintai semua yang engkau sebutkan tadi, tetapi kami hanya berpesan agar cintamu terhadap apa yang kau sebutkan tadi adalah demi Allah dan karena cinta kepada-Nya. Misalnya mencintai makanan yang enak, buah-buahan yang segar dari aspek karunia Allah dan anugerah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang merupakan bentuk rasa cinta terhadap nama ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan al-Mun’im (Yang Maha Memberi nikmat). Ia merupakan bentuk syukur maknawi. yang menjadi petunjuk bahwa cinta ini bukan untuk memenuhi hawa nafsu; tetapi nama Ar-Rahman, adalah mencari rezeki yang halal disertai eprasaan cukup dalam batas-batas yang dibenarkan oleh agama dan memakannya dengan merenungkan rasa syukur.

Demikian halnya dengan kecintaan dan penghormatanmu kepada orang tua adalah demi rahmat dan kebijaksanaan kepada mereka perasaan kasih sayang sehingga mereka mau mengasuh dan mendidikmu dengan penuh kasih sayang dan bijaksana adalah milik Ilahi. Tanda cinta tadi ditujukan kepada Allah swt. engkau lebih banyak mencintai dan mencurahkan kasih sayang kepada mereka ketika mereka sudah tua, tidak ada lagi faedah bagimu dari mereka dan emreka menjatuhkan engkau dalam kesulitan. Allah berfirman

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sudah berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan pula membentak mereka. Namun, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayangdan berdoalah, “Wahai tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil (QS Al Isra/17:23-24)

Ayat diatas mengajak seluruh anak untuk memelihara hak orang tua dalam liima tingkatan. hal ini menunjukkan betapa pentintg berbakti kepada orang tua berikut buruknya sikap durhaka kepada mereka dalam pandangan Al-Qur’an,

Seorang ayah biasanya tidak mau seseorang lebih baik daripadanya kecuali oleh anaknya. sebagai balasan anak tidak boleh menuntut hak kepada ayahnya. jadi secara fitrah tidak ada pertengkaran antara anak dan kedua orang tua karena pertengkaran muncul dari dengki dan hasad. ayah tidak akan merasa dengki kepada anaknya. ertengkaran bisa juga bersumber dari kesalahan. anak tidak berhak untuk menuntut ayahnya. Bahkan jika ia melihat ayahnya berbuat kesalahan sekalipun, ia tetap tidak boleh memberontak dan mendurhakainya. artinya, siapa yang berdurhaka kepada orang tuanya serta menyakiti mereka berarti ia manusia yang telah berubah menjadi binatang buas.

mencintai dan melindungi anak dengan penuh kasih sayang dan belas kasih lantaran mereka merupakan karunia tuhan Yang Maha Penyayang dan Pemurah yang menjadi milik Allah SWT. Tanda yang menunjukkan bahwa cinta abadi tadi demi Allah SWT adalah bersabar disertai rasa syukur ketika sang anak meninggal tanpa menjerit dengan putus asa. seolah-olah ia berkata “makhluk ini adalah yang dicintai dan diberikan kepada penjagaan saya oleh Sang Pencipta. sekarang, kebijaksanaanNya memutuskan untuk mengambilnya kembali dariku ketempat yang lebih baik. Jika ada satu bagian jasaku yang tampak padanya, Allah Swt memiliki ribuan jasa hakiki terhadapnya. karena itu, sudah selayaknya rela menerima ketentuan Allah dengan ucapan al-hukmuliLLAH (ketentuan itu milik Allah)

bersambung…

20 makanan yang mengandung zat besi

Zat besi merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan tubuh manusia. Fungsi dari zat besi adalah mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Zat besi bergabung dengan oksigen di dalam paru-paru dan melepaskan oksigen dalam darah yang memerlukan. Zat besi digunakan dalam pembuatan hemoglobin dan berperanan penting dalam fungsi normal daya tahan tubuh.

Kekurangan zat besi menyebabkan terhambatnya pasokan hemoglobin dalam darah. Penyakit karena kurangnya hemoglobin (sel darah merah) disebut anemia. Gejalanya biasa ditandai dengan kurang bergairah, mudah lelah dan lemas, pucat serta sering pusing.

Kekurangan zat besi bisa diatasi dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti bayam, kentang, daging sapi , dll.

Nah, berikut ini merupakan makanan sumber zat besi yang bisa Anda dapatkan secara mudah.

1. Kulit Kentang
Kulit Kentang, mungkin sebagian besar kita tidak memakan kulit dari kentang dan mengupasnya untuk dibuang. Ternyata studi menemukan bahwa kulit kentang memiliki zat besi lima kali lebih besar dibanding daging kentangnya sendiri. Jadi sekarang coba yah makan kentang dengan kulitnya.

2. Daun Bayam
Bayam, adalah sayuran yang sangat membantu kita untuk mengikat zat besi. Dengan bayam kita dapat mengikat banyak sekali zat besi, dan memang bayam sudah dikenal dapat mengurangi gejala anemia. Jadi jangan ragu untuk menyantap bayam setiap minggunya. Selain zat besi, bayam juga mengandung vitamin A.

3. Jagung
Jagung kaya akan zat besi dan tembaga. Jagung juga menjadi sumber yang baik untuk vitamin A dan C.

4. Kangkung
Kangkung adalah sumber yang sangat baik untuk vitamin A dan vitamin B serta C. Kangkung mengandung jumlah tinggi zat besi, kalsium, dan kalium.

5. Chard
Chard merupakan sayuran yang mengandung vitamin A dan zat besi.

6. Buah Aprikot
Buah ini mengandung zat besi yang sempurna untuk memastikan tubuh mendapatkan asupan zat besi.

7. Buah Bit hijau
Bit hijau merupakan sumber vitamin A dan B2. Bit hijau juga dapat memperkaya darah dengan besi dan mangan.

8. Buah jeruk
membantu memerangi penyakit akibat kekurangan vitamin C, karena buah jeruk mengandung asam folat.

9. Buah Prune
Buah Prune, adalah jenis buah yang memiliki banyak zat besi dibanding buah apel dan pepaya. Dalam jus prune terdapat 3mg zat besi. Jadi coba buah ini untuk memperlancar sirkulasi darah kita keseluruh tubuh.

10. Kacang tanah, kacang hijau dan kacang kedelai
Kacang tanah, kacang hijau dan kacang kedelai merupakan jenis kacang yang mudah diolah. 100 gram kacang kedelai mengandung 381 kkal energi, dan 10 mg zat besi. Sedangkan kacang hijau mengandung 323 kkal energi dan 7,5 zat besi per 100 gram.

11. Kacang Lentil
Lentil yang bentuknya bulat dan kecil ini bisa disajikan untuk menu sehari-hari. Bisa dibuat sup atau bubur manis. Dalam 1 cangkir lentils mengandung 6,6 mg zat besi.

12. Beras merah
sumber serat, vitamin E, asam folat, dan zat besi.

13. Roti Gandum
Roti Gandum adalah pilihan bagi para pelaku diet untuk memenuhiisi perutnya, selain itu ternyata gandum mengandung zat besi yang besar, selain memiliki fungsi mencegah penyakit jantung dan kanker. Jadi biarpun tidak melakukan diet roti gandum pun bisa menjadi pilihan buat pengikat zat besi kita.

14. Kismis
Kismis mengandung zat besi yang sangat tinggi. Kismis juga merupakan makanan yang bersifat basa dan dapat membantu mengatasi kondisi asam tubuh.

15. Sereal
Makanan yang sering disajikan untuk menu sarapan ini sangat baik untuk kesehatan. ¾ cangkir sereal mengandung 18 mg zat besi. Sedangkan 100 gram oatmeal instan mengandung 11 mg zat besi.

16. Buah Kering
Buah kismis, pig, apel, pir, aprikot dan peach adalah buah yang paling sering dikeringkan. Namun buah kering yang banyak mengandung zat besi adalah kismis dan plum. Dalam ½ cangkir kismis terdapat 1,9 mg zat besi dan dalam 1 cangkir plum terdapat 1 mg zat besi.

17. Yoghurt
Minimal anda akan mendapatkan sepertiga kandungan kalsium per hari dalam satu cangkir. Kalsium akan membangun dan mempertahankan kesehatan tulang.

18. Telur
Telur kaya akan semua mineral, termasuk besi, dan vitamin B. Telur ideal dikonsumsi saat sarapan karena mengandung jumlah energi memadai.

19. Daging Sapi
Daging merupakan bahan makanan hewani. Seperti daging sapi yang mudah diolah. Dalam 100 gram daging sapi segar mengandung 201 kkal energi, 14 gram lemak, dan 2,8 mg zat besi.

20. Ikan
Salah satu makanan laut ini dipercaya kaya akan omega-3 dan 6. Ikan baronang diketahui mengandung zat besi sebanyak 3,8 mg per 100 gram. Selian itu ikan sarden juga mengandung 2,5 mg zat besi per 100 gram. Ikan salmon merupakan sumber utama protein dan asam lemak omega 3. Dan jangan lupa satu lagi yaitu ikan tuna.

untuk pemuda yang sedang sakit

wahai orang yang mendapat cobaan dengan derita sakit! melalui pengalaman saya di zaman ini, saya telah membuktikan bahwa derita sakit adalah kemurahan ilahi dan anugerah rahmani bagi sebagian manusia. selama delapan atau sembilan tahun, beberapa pemuda menemuiku karena sakit mereka, dengan harapan saya mendoakan kesembuhan mereka, sesuatu yang bukan merupakan keahlian saya. kemudian, saya memperhatikan bahwa mereka yang menderita rasa pedih banyak bertafakur dan mengingat akhirat, serta tidak mabuk kelalaian masa muda. bahkan, sampai tingkat tertentu derita sakit tersebut menjaga diri mereka dari syahwat hewani.

saya mengingatkan mereka bahwa sesungguhnya saya senantiasa melihat derita sakit tersebut–termasuk kemampuan mereka menahannya–merupakan kebaikan ilahi dan anugerah dari Nya yang Maha Suci. karena itu saya berkata, “saudaraku, saya tidak bermusuhan dengan derita sakitmu ini, maka deritamu tidak menimbulkan saya rasa kasihan kepadamu yang membuat saya merasa perlu mendoakan kesembuhan dirimu. berusahalah menghias dirimu dengan sifat sabar dan tabah dalam menghadapi derita sakit, sampai engkau mrndapatkan kesadaran! Jika sakit tersebut telah menyelesaikan tugasnya, maka Allah swt, Sang Pencipta yang Maha Penyayang akan menyembuhkan engkau.”

saya juga berkata padanya,” sebagian orang sepertimu selalu mengguncang, bahkan menghancurkan kehidupan abadinya demi menikmati kesenangan lahiriah sesaat dari kehidupan dunia. dan itu disebabkan tenggelamnya mereka dalam sifat lupa zikir yang berasal dari cobaan kesehatan. mereka juga meninggalkan sholat fardhu lupa akan mati, dan tidak mengingat Allah swt. sementara, lewat derita sakit itu engkau melihat kuburan yang akan menjadi rumahmu yang pasti engkau tempati. engkau juga akan melihat tingkatan-tingkatan ukhrawiah yang lain dibaliknya. karena itu, engkau akan bergerak dan melangkah sesuai dengan hal tersebut. dengan demikian, derita sakitmu merupakan kesehatan bagimu, dan kesehatan yang dirasakan oleh sebagian orang seusiamu, merupakan penyakit bagi mereka.”

oleh : Bediuzzaman Said Nursi, penulis Risalah Nur

siapa manusia paling bahagia?

dunia bersifat fana, usia singkat, sementara kewajiban banyak, kehidupan abadi ditentukan disini, di dunia dimana ia bukan tak bertuan, dan yang menjamu adalah Tuhan pemurah dan maha bijak, yang tidak menyia-nyiakan balasan keburukan dan kebaikan serta tifak membebani manusia di atas kemampuan; lalu jalan lurus lebih dipilih dari jalan yang berisi kepedihan, sahabat dan pangkat yang bersifat duniawi hanya menemani sampai pintu kubur. jika demikian, maka manusia yang paling bahagia adalah yang tidak lupa krpada akhirat lantaran dunia; yang tidak mengorbankan akhiratnya demi dunia; yang tidak merusak kehidupan abadinya demi kehidupan duniawinya; yang tidak menghabiskan usianya pada sesuatu yang tidak berguna, yang tunduk pada perintah seperti tunduknya tamu kepada tuan rumah, sehingga dapat membuka pintu kubur dengan aman dan masuk ke negeri kebahagiaan dengan selamat.

oleh : Bediuzzaman Said Nursi, Penulis Risalah Nur

Hakikat Bismillah

Bismillah adalah awal dari semua kebaikan. karena itu kita memulai dengannya. wahai jiwa, ketahuilah bahwa disamping sebagai syiar islam, kalimat yang baik dan penuh berkah ini merupakan zikir seluruh entitas lewat lisan al-hal (keadaan) mereka. Jika engkau ingin mengetehaui sejauh mana kekuatan luiar biasa yang tak pernah habis terkandung dalam bismillah, serta sejauh mana keberkahan yang terdapat padanya, perhatikan perumpamaan singkat sebagai berikut ini.

seorang badui nomaden dan mengembara di padang pasir harus memiliki hubungan yang mengikat dengan pemimpin kabilahatau kepala suku, dan harus berada dalam perlindungannya agar selamat dari gangguan orang orang jahat, agar bisa menunaikan pekerjaannya, dan agar bisa mendapatkan berbagai kebutuhannya. Jika tidak, ia akan merana sendirian dalam kondisi cemas dan gelisah menghadapi banyak musuh dan kebutuhan yang tak terhingga.

begitu pula, pengembaraan yang sama dilakukan olah dua orang yang berbeda; yang pertama memiliki sifat rendah hati, sementara yang kedua memiliki sifat kebalikannya, berlaku sombong. orang yang rendah hati menisbatkan diri kepada penguasa, sementara yang sombong menolak untuk menisbatkan diri padanya. Keduanya berjalan di padang pasir tersebut. ketika orang yang menisbatkan diri kepada penguasa itu berkelana dengan aman di setiap tempat,kemudian bertemu perompak jalanan, ia berkata “Aku berjalan atas nama penguasa”. mendengar hal itu, perompak tadi lantas membiarkannya pergi dengan rasa aman. Dia masuk ke dalam kemah dengan dan disambut dengan penuh hormat berkat nama penguasa yang disandangnya. Adapun orang yang sombong ia menjumpai berbagai cobaan dan musibah yang tak terkira pasalnya, sepanjang perjalanan ia terus berada dalam ketakutan dan kecemasan. ia selalu meminta dikasihani sehingga membuat dirinya terhina.

Karena itu, wahai diri yang sombong, ketahuilah! engkau laksana Badui diatas. Dunia yang luas ini adalah padang pasir tersebut. kefakiran dan ketidakberdayaanmu tak terhingga serta musuh dan kebutuhanmu tak pernah habis. Jika demikian keadaannya, sandanglah nama Pemilik Hakiki dan Penguasa Abadi dari padang pasir ini agar engkau selamat dari meminta minta pada makhluk serta dari rasa cemas dalam menghadapi peristiwa.

Ya, kalimat Bismillah ini merupakan kekayaan besar yang penuh berkah bahwa, dengan perantaraan kalimat itu kefakiranmu yang terpaut dengan sebuah rahmat yang luas dan mutlak lebih luas dari seluruh entitas yang ada dalam dunia ini. Ketidakberdayaanmu juga terpaut dengan sebuah kekuatan besar dan mutlak yang memegang kendali seluruh wujud mulai dari atom hingga galaksi. Bahkan, semua kefakiran dan ketidakberdayaanmu menjadi sarana yang diterima oleh Sang Mahakuasa Yang Maha Penyayang, Pemilik Keagungan. Orang yang bergerak dengan kalimat tersebut bagaikan orang yang bergabung dalam pasukan. Ia beraktifitas atas nama negara tanpa takut kepada siapapun. Sebab, ia berbicara atas nama undang undang negara sehingga ia dapat menyelesaikan tugas dan tegar dalam menghadapi apapun.

Di awal kami telah menyatakan bawhwa semua entitas lewat lisan Al-hal (keadaannya) mengucap Bismillah. Benarkah menggiring manusia ke satu tempat serta memaksa mereka melakukan berbagai kewajiban, tentu engkau berkeyakinan bahwa orang itu tidak sedang mewakili dirinya dan tidak menggiring manusia atas nama dan kekuatannya. akan tetapi, ia seorang prajurit yang bertindak atas nama negara dan bersandar kepada kekuatan pemimpin.

Nah, seluruh entitas juga melakukan tugasnya atas nama Allah swt. Dengan nama Allah swt, benih-benih yang sangat kecil memikul sejumlah pohon yang sangat besar dan berat. Artinya, setiap pohon mengucap Bismillah, dan mengisi rantingnya dengan buah-buahan yang berasal dari kekayaan Rahmat Ilahi guna dipersembahkan kepada kita. Setiap kebun mengucap Bismillah. Ia menjadi dapur bagi kodrat Ilahi sebagai tempat untuk mematangkan berbagai makanan yang nikmat. Setiap hewan yang penuh berkah–seperti unta, kambing dan sapi–mengucap Bismillah ini. Mereka menjadi sumber yang memancarkan susu dari limpahan RahmatNya. Atas nama Zat Pemberi Rezeki ia berikan kepada kita nutrisi yang paling lembut dan paling bersih. Akar-akar setiap tumbuhan dan rumput mengucap Bismillah serta membelah batu karang yang keras dengan nama Allah ini. Dia berucap dan bergerak atas nama Allah dan ar-Rahman sehingga segala sesuatu tunduk kepadanya.

Ya, tersebarnya ranting di udara dan diiringi banyak buah, bercabangnya sejumlah akar di dalam batu karang yang keras dan ia menyimpan nutrisi di bawah tanah, lalu dedaunan yang hijau menahan cuaca panas, sementara ia tetap segar. Semua itu merupakan tamparan keras yang membungkam mulut kaum materialistis, yakni para penyembah kepercayaan hukum kausalitas sebab-akibat, sekaligus sebagai seruan keras yang menggema di wajah mereka dimana ia berbunyi, “kondisi keras dan panas yang kalian percayai sesungguhnya tidak bekerja atas dirinya sendiri melainkan hukum itu bekerja karena semata melaksanakan tugas sesuai perintah Tuhan, sebagaimana akar yang halus dan lembut melaksanakan perintah, seperti tongkat Musa, sehingga ia memecah batu karang:

“…Kami berfirman, “pukullah batu itu dengan tongkatmu” (qS. al-Baqarah [2]; 60)

Juga kondisi dedaunan yang segar laksana anggota tubuh Ibrahim as. yang ketika menerima kobaran panas membaca ayat :

“Kami berfirman, wahai api, jadilah engkau dingin dan selamat…” (QS. al-Anbiya [21]:69)

Jadi, selama segala sesuatu di alam ini mengucap Bismillah, secara maknawi, mendatangkan dan mempersembahkan nikmat Allah swt. kepada kita dengan Bismillah, maka kita juga harus memulai dengan Bismillah. Kita memberi dengan nama Allah dan mengambil dengan nama Allah. Demikian pula kita tidak boleh menerima dari kaum yang lalai, yang tidak memberi dengan nama Allah swt.

Pertanyaannya: Kita memperlihatkan penghormatan kepada orang yang menjadi sebab datangnya nikmat kepada kita. Lalu, apa yang dituntut dari kita oleh Allah sebagai Zat Pemilik seluruh nikmat itu?

Jawaban : Allah Pemberi nikmat hakiki menuntut tiga hal dari kita sebagai harga dari nikmat yang berharga tersebut. Pertama, zikir, kedua, syukur, dan ketiga, pikir.

Dalam hal ini Bismillah sebagai pembuka merupakan zikir, kalimat Hamdallah, al-Hamdulillah sebagai penutup adalah syukur, sementara apa yang berada di antara keduanya adalah pikir, yaitu merenungi dan menyadari bahwa nikmat-nikmat yang berharga tersebut merupakan mukzizat kodrat Tuhan Yang Maha Esa, serta hadiah rahmat-Nya yang luas.

Nah, perumpamaan orang yang mencium kaki pembantu karena telah menghantarkan hadiah raja sungguh sangat bodoh dan tolol, begitu pula memuja dan mencintai sebab sebab materi yang menjadi penghantar rezeki, dan melupakan sendiri siapa Pemberi Nikmat hakiki. Bukankah ini ribuan kali jauh lebih bodoh dari sikap hina itu?

wahai jiwa, jika engkau tidak mau seperti orang bodoh di atas, maka: Berilah atas nama Allah, Ambillah atas nama Allah; Mulailah atas nama Allah; Bekerjalah atas nama Allah.

Wassalam

oleh : Bediuzzaman Said Nursi

cara menyikapi masalah

“sebutir intan meskipun kusam selalu lebih disukai daripada sekeping kaca, atau batu, sebagaimanapun kaca atau batu itu telah digosok”


sponsor

twitter.com/pipinpramudia

  • Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Add to Technorati Favorites Locations of visitors to this page

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 25 other followers