cara mensejahterakan petani?

oke, mari bertingkah seolah olah yang mikirin negara ini adalah kita🙂. beberapa waktu lalu seseorang bilang bahwa untuk mensejahterakan petani adalah :

1. pemerintah harus membeli hasil panenan petani.

2. peran pemerintah untuk mengawasi pasar harus benar benar dijalankan, terutama untuk pedagang yang ‘nakal’ dalam arti suka mempermainkan harga guna memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.

3. jalur distribusi daerah penghasil hasil pertanian dengan end user (pasar) harus benar benar lancar *secara fisik dan bebas calo*

lebaran ini kebanyakan petani di kampung saya panen bawang merah, sedangkan bawang merah sedang tidak laku, bayangin harga per kilo nya cuma 2ribu rupiah, dan terus anjlok sehingga banyak petani yang membiarkan bawang merah mereka membusuk, termasuk emak gw *biaya operasional untuk memanen mungkin lebih besar*.

lalu sodara saya dari jakarta bilang bahwa harga bawang merah di jakarta mahal, sekitar 12ribu per kilo nya. wow, bedanya bisa 10.000, mmmhh lumayan juga ya, 10 ribu itu menguap kemana aja ya, ada yang bisa kasih tau? ada yang bisa kasih solusi?

4 Responses to “cara mensejahterakan petani?”


  1. 1 Joko HP September 14, 2010 at 7:18 am

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Menyedihkan memang. Tapi itulah kenyataan bagi petani Indonesia. Tidak ada modal untuk bertani, bahkan hari ini mau makan nyarinya juga hari ini. Harga tinggi banyak dinikmati “cukong” pemilik modal dan “hilang” di jalur distribusi yang banyak tangan.
    Jadi boro-boro bank mau beri pinjaman modal kalau gitu. Petani mau tergabung dalam koperasi? Bank pun juga belum percaya pada koperasi. Selain profesi petani adalah “maaf” sebuah keterpaksaan, karena memang warisan yang sudah turun temurun, juga mayoritas pendidikan dan “ilmu bertani” para petani kita relatif “rendah”. Jadi jaminan pinjaman kembali rendah.
    Saya tidak “bisa” memberi solusi, tapi barangkali beberapa masukan ini bisa diambil:
    1. Perpendek rantai distribusi, harus ada “pemodal” yang nasionalismenya tinggi. Bisa saja para petani membentuk koperasi, kirim sendiri ke Jakarta atau pasar potensial lain. Karena contoh bawang merah tadi kalau sampai Jakarta melalui minimal 5-6 tangan (masing-masing untung 1000), jadi wajar kalau 2000 sampai Jakarta 10000.
    2. Kaji ulang, bener gak bahwa bawang merah dapat dijadikan produk unggulan daerah/ wilayah. Atau komoditas lain ada yang lebih cocok.
    3. Tingkatkan nilai ekonomi suatu produk, misal bawang merah tadi jangan dijual langsung dari sawah tapi misalnya jadi bawang goreng, atau bisa digabung dengan produk abon sapi atau lainnya.
    4. Kembangkan sentra ekonomi baru, gairahkan pasar tradisional, gali potensi ekonomi, potensi wisata, dan lainnya, tentunya dengan meningkatkan daya tarik dan daya saing.
    5.Promosikan wilayah/ daerah “MAGETAN” agar lebih dikenal untuk menarik komunitas/ penduduk daerah/ wilayah lain berinteraksi. Ini “maaf” pak Bupati dan jajarannya yang harus lebih giat.
    6. Perbanyak ajang yang menarik “putra daerah” sehingga mereka tergugah untuk “Mbangun Deso”. Banyak putra Magetan yang “sukses”, berpendidikan tinggi, tapi “ora iso urip” kalau tinggal di Magetan. Mereka di Jabotabek, Gerbang Kertosusila, atau Joglo Semar, Bandung, bahkan luar pulau dan luar negeri.(Aduh kepanjangan)

    Wassalamu’alaikum wr.wb.
    Joko Herma Pramulyo
    Asli lahir Desa Goranggareng
    Kec. Nguntoronadi (pecahan kec. Takeran), Magetan
    Sedang di Jakarta, kalau ilmu, pengalaman, dan bekal sudah cukup bercita-cita membangun Magetan dikenal di dalam Negeri Indonesia tercinta dan luar negeri.

  2. 2 journalight September 15, 2010 at 12:24 am

    thanks mas masukannya, kapan kapan saya posting ya comment mas ini, saya juga magetan kok ^^ lagi di magetan
    juga, suatu saat nanti juga bercita cita mbangun magetan, haha

    saya doain mas, good luck!🙂

  3. 3 Asop September 15, 2010 at 12:37 am

    Iya, sebenarnya mudah kan? Mustinya pemerintah yang menyebarkan bawang2nya. Ya sedikit sosialis gak apa2 lah.🙂
    Yang bikin kasihan itu ya karena harga yang dibeli oleh tengkulak rendah sekali. Sedangkan Tengkulak ngejual ke toko2 di kota dengan harga yang marginnya keterlaluan. Untung besar si tengkulak, bukan petani.👿

    • 4 journalight September 15, 2010 at 12:53 am

      9 dari pintu rejeki itu ada dalam perniagaan, tapi ya gak gitu gitu juga kali *sketsa mode : on*

      kalo ngarepin pemerintah mah sop, udah susah, yang bisa kita lakuin sekarang adalah bertingkah seolah oleh gak ada pemerintah🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




sponsor

twitter.com/pipinpramudia

  • Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Add to Technorati Favorites Locations of visitors to this page

    %d bloggers like this: