Archive for August, 2011

lebaran sebentar lagi

udah mudik, udah di kampung, secara garis besar kerjaan gw di kampung tuh, tidur, bantuin bapak ngasi makan sapi, bantuin ibuk masak, bantuin ngabisin makanan, nyuci mobil, cuma nganterin mobil ke tempat cuci doang sih, trus main point blank, maijn dota,  hahay, nikmatnya hidup di kampung

Advertisements

kaos polos

pemesanan kaos polos silahkan menghubungi 081313640339 atau pin bb : 268ABE8C dengan pemesanan minimal dua lusin

https://i2.wp.com/www.indodistro.com/wp-content/uploads/2010/11/kaos-polos.jpg

kaos terbuat dari bahan cotton combed 20. 24 dan 30s sehingga nyaman dipakai, dijahit dengan jahit rantai, tidak nyaman uang kembali 🙂

untung dan investasi

dulu ada orang yang menawarkan kepada saya, pin ngapain investasi reksadana, mending kamu investasi di emas. nilainya terus naik.

jika seseorang membeli rumah pada tahun 1980 seharga 50 juta, lalu pada tahun 2011 sekarang ini rumahnya telah bernilai 200 juta. apakah dengan begitu dia untung 150 juta? untung dari mana? lha wong rumahnya ya itu itu aja. secara logis malah rugi karena kamu bayar pajak tiap tahun dari tahun 1980 sampai tahun 2011.

jika oke kamu membeli emas, katakanlah 1 kg tahun 1996 seharga 25 juta, dan sekarang harganya 1 kg 500juta, apakah dia untung 475 juta? padahal emas nya dari pertama dia beli sampai sekarang masih tetep satu kilo, enggak berubah jadi dua kilo.

secara logika emas anda justru berkurang karena dalam islam harta yang disimpan itu ada zakatnya, ada sebagian hak kaum miskin sebesar 2.5 persen, nisab atau harta yang harus dikeluarkan zakatnya adalah 20 dinar (85 gram emas) jadi kalau kita punya 20 dinar, kita harus keluarin zakatnya. itulah makanya dalam islam dianjurkan untuk tidak menimbun harta, tapi investasi pada sektor riil, agar kesejahteraan merata. tidak dipegang kaum yang kaya saja.

lantas apakah membeli emas atau rumah bisa disebut investasi? ya tergantung by definition dari investasi itu menurut anda sendiri :). kalo menurut saya sih, emas atau asset seperti rumah itu cuma sebagai penjaga nilai dari harta anda aja, proteksi, guardian of value. melindungi kemampuan daya beli harta anda terhadap komoditas. melindungi harta anda dari inflasi.

terus untung itu gimana? kalo menurut saya sih untung itu kalau kita beli kambing dua, jantan dan betina (asumsi kambingnya nggak homo atau lesbi) terus mereka menikah dan memiliki anak dua, lalu anaknya menikah lagi sehingga si kambing punya cucu, dan beranak pinak seterusnya sampai 100 ekor, itulah yang saya sebut sebagai untung 98 kambing, dikurangi ongkos makan makan dan tempat tinggal (ongkos produksi).

apa itu untung? kalo kita nanem 100 batang padi dari 100 biji padi, lalu tiap padi ngeluarin 100 padi, terus kita panen 10.000 padi, itulah untung kita 10ribu dikurangi 100 padi dikurangi ongkos produksi.

so bagi yang udah dapet gaji sudah saatnya bagi anda untuk memproteksi kerja keras anda 🙂

wassalam

sumber pendukung : mbah google

manfaat daging dan susu kambing

Susu Kambing, Sunnah Rasulullah yang Telah Dilupakan

Susu kambing adalah minuman yang tidak kalah bergizinya dibandingkan dengan susu sapi. Bahkan keluhan-keluhan kesehatan yang sering dijumpai akibat minum susu sapi tidak pernah ditemui beritanya pada orang-orang yang mengkonsumsi susu kambing.

Susu kambing dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang mempunyai alergi terhadap susu sapi. Boleh jadi itulah hikmahnya mengapa dalam riwayat-riwayat shahih tentang kehidupan Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya kita temui kisah mereka minum susu kambing, dan bukan susu sapi!

Namun, manfaat susu kambing sayangnya masih belum disadari oleh kebanyakan kaum muslimin termasuk bangsa Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbanyak di dunia.

Sebagaimana di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat, di Indonesiapun susu sapi dan berbagai produk olahannya lebih memasyarakat dan lebih mudah dijumpai di pasaran dibandingkan dengan susu kambing.

Sunnah Rasulullah yang telah dilupakan

Rasulullah saw. pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dalam HR. Muslim bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan pada akhirnya akan datang suatu masa di mana Islam akan menjadi asing kembali. Karena dalam memahami dan mempraktekkan ajaran-ajaran Islam seorang muslim diperintahkan Allah SWT. untuk meneladani Rasulullah saw. (QS. 33: 21)[1], maka dalam sejarahnya terdapat pula masa di mana praktek meneladani semaksimal mungkin seluruh sikap dan perilaku sehari-hari Rasulullah – termasuk kebiasaan makan dan minumnya – mengalami masa awal yang asing dan masa kemudian yang asing pula. Di antara jenis minuman yang biasa diminum oleh Rasulullah saw. adalah susu kambing segar, yakni langsung diminum sesudah diperah dari ambing kambing (kisah Abdullah bin Mas’ud pada masa remaja saat dia menggembalakan kambing milik Uqbah bin Mu’aith)[2]. Namun, berapa persen dari penduduk muslim di seluruh dunia ini – terlepas dari kemampuan ekonominya – yang punya kebiasaan minum susu kambing? Atau lebih spesifisik lagi: berapa persen dari seluruh kaum muslimin di dunia ini yang tahu akan manfaat susu kambing?

Sulit untuk menemukan adanya data statistik aktual tentang jumlah konsumsi susu kambing di seluruh dunia, apalagi di negara-negara yang penduduknya sebagian besar muslim karena pada umumnya data internasional tentang produksi, konsumsi dan kebutuhan susu ternak yang didokumentasikan dengan baik adalah untuk susu sapi[3]. Bahkan tidak ada data dunia untuk jumlah populasi ternak ruminant kecil (kambing dan domba) yang dibedakan tujuan produknya (sebagai pemasok daging, serat wol, kulit ataukah susu).

Namun, dari data yang tersedia3 nampak bahwa produsen susu kambing yang paling produktif (dalam kg susu/ekor/tahun) di dunia adalah negara Eropa Barat dan Timur yang sebagian besar penduduknya non-muslim seperti misalnya Perancis (400), Rusia (125), Spanyol (121), Italia (115), dan Yunani (78). Sedangkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim seperti Aljazair (47), Irak (35), Sudan (31), Turki (30), Pakistan (17) dan Indonesia (15) produktifitas susu kambingnya sangat rendah. Juga dari muamalah penulis dengan sesama muslim, baik bangsa sendiri maupun bangsa asing yang tinggal di Jerman, dan dari pengamatan terhadap ketersediaan susu sapi dan susu kambing di pasar, toko maupun pusat-pusat perbelanjaan diduga kuat bahwa jawaban atas kedua pertanyaan di atas adalah: tidak banyak. Sebagaimana di berbagai aspek kehidupan lainnya (politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan/keamanan) rupanya dalam hal kebiasaan makan dan minumpun kaum muslimin masih dikuasai oleh arus pemikiran dan politik negara-negara barat.

Padahal Allah SWT. telah berfirman dalam Al Qur’anul Karim: „Maka makanlah yang halal lagi baik (thoyyib) dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah“ (QS. 16 :114). Kebanyakan kaum muslimin baru tiba pada tahap halal, belum sampai tahapan thoyyib. Padahal kalau kita menganalogikan dengan kedudukan sholat wajib dan membayar zakat yang selalu diperintahkan Allah secara bersama-sama dalam sebuah ayat (contohnya di dalam QS. 2: 83, 5: 12, 19: 55 dan 21: 73) untuk menunjukkan pentingnya hal yang kedua yang tidak dapat dipisah-pisahkan dari hal yang pertama (riwayat Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memerangi kaum muslimin yang enggan membayar zakat meskipun mereka tidak meninggalkan sholat)[4], maka semestinya pengetahuan mengkonsumsi makanan dan minuman yang thoyyib pun tidak boleh dipisahkan dari yang halal. Maka hendaknya kita tidak berpuas diri dengan mengetahui makanan dan minuman yang halal saja, melainkan hendaknya kita juga menambah pengetahuan kita akan ke-thoyyib-an makanan dan minuman halal, termasuk susu.

Kontroversi Susu Kambing dan Susu Sapi

Pada umumnya konsumsi susu ternak dianjurkan karena potensinya sebagai sumber protein dan kalsium yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Bahkan sebagai sumber kalsium – dengan pola makan masyarakat yang umumnya sangat kurang konsumsi sayur segarnya – nyaris susu tak bisa digantikan dengan bahan makanan lainnya[5]. Oleh karena itu, pada umumnya ahli pangan dan gizi sangat menganjurkan untuk minum susu setiap hari. Namun, seorang ahli pangan yang sangat memperhatikan pengaruh pola makan terhadap kesehatan dan proses timbul dan sembuhnya berbagai macam penyakit, Norman W. Walker telah membuktikan bahwa susu – kecuali susu kambing segar – adalah bahan makanan yang paling banyak menimbulkan lendir di dalam tubuh manusia[6]. Beliau juga mengamati bahwa susu yang paling cocok untuk dikonsumsi manusia (selain bayi yang belum lepas dari air susu ibu) adalah susu kambing segar. Dinyatakannya pula bahwa pemanasan di atas suhu 48°C justru merusak nilai fisiologis susu kambing dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan karena merangsang timbulnya lendir yang berlebihan – suatu hal yang sangat kontroversial bagi ahli gizi dan teknologi pengolahan pangan pada umumnya.

Di antara gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari mengkonsumsi susu sapi adalah kegemukan, asma, infeksi paru-paru, pilek alergi (misal alergi serbuk sari) dan tuberkulosis6, meskipun pada umumnya ahli gizi dan dokter berpendapat bahwa susu sapi dapat menjadi bahan makanan sumber berbagai macam antibodi untuk melawan penyakit[7].

Allah SWT. telah berfirman bahwa susu adalah minuman yang disediakan-Nya bagi manusia (QS. 16: 66, 23: 21). Allah juga menyebutkan bahwa minuman susu itu mudah ditelan oleh manusia. Dalam istilah ilmu gizi tentunya mudah ditelan ini maksudnya adalah mempunyai arti fisiologis yang baik. Tidak mungkin Allah menjerumuskan hamba-hamba-Nya dengan menunjukkan sumber minuman yang justru menimbulkan berbagai macam penyakit. Maka dalam kontroversi manfaat ataukah kerugian yang akan kita rasakan sesudah mengkonsumsi susu sapi perlu dikaji secara menyeluruh, bukan hanya untuk satu jenis gangguan kesehatan semata. Kalau dikatakan susu sapi bisa menjadi sumber antibodi untuk melawan penyakit tertentu, sedangkan di sisi lain status kesehatan orang yang bersangkutan tidak dimonitor secara menyeluruh (misal alergi tetap ada dan berat badan semakin bertambah tanpa bisa dikontrol), maka boleh jadi memang ada manfaat dari susu sapi bagi kesehatan manusia di samping banyak mudhorot yang ditimbulkannya. Ini mirip dengan yang telah berlaku bagi minuman keras (khamr), tapi dalam khamr ini Allah jelas-jelas telah membongkar rahasianya dengan berfirman bahwa di dalam khamr memang bisa ditemui ada manfaatnya (paradoks Perancis dengan khamr anggur merahnya), namun kemudhorotannya jauh lebih besar. Dengan demikian maka besarnya konsumsi susu sapi oleh kaum muslimin selama ini bisa jadi hanya disebabkan oleh keterbatasan ilmu manusia yang keliru dalam menafsirkan ayat tentang susu dalam Al Qur’an sebagai susu ternak apa saja termasuk sapi, sedangkan seharusnya adalah susu kambing. Bukti-bukti ilmiah tentang manfaat susu kambing terhadap kesehatan sebetulnya telah diperoleh manusia 3,6,[8],[9] hanya saja secara umum publikasinya masih kalah dibandingkan dengan susu sapi3.

Kesiapan Teknologi Pendukung Produksi Susu Kambing

Sesudah mengetahui sangat banyaknya manfaat susu kambing dibandingkan dengan susu sapi, maka tentu timbul pertanyaan: Mengapa di Indonesia sulit dijumpai produk susu kambing di toko-toko atau di supermarket- supermarket? Bukankah kambing bisa hidup di iklim negara kita? Apakah memang budidaya kambing itu sulit alias tidak prospektif dari sudut pandang ekonomi? Telah diteliti bahwa budidaya kambing sangat potensial dan realistis untuk dikembangkan di negara-negara yang sedang berkembang dengan iklim tropis3.

Dari Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Ternak di Bogor dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan di Indonesia sangat cocok bagi budidaya kambing dari jenis yang bisa dijadikan sekaligus pemasok susu dan daging, yakni peranakan antara kambing kacang dan kambing Etawah yang berasal dari India dan dikenal dengan kambing PE[10]. Dalam laporan penelitian itu disarankan agar ternak kambing yang jantan dibesarkan untuk dimanfaatkan dagingnya, sedangkan ternak yang betina dibesarkan untuk diambil susunya. Diperhitungkan bahwa satu ekor kambing PE dapat mencukupi kebutuhan protein hewani asal susu untuk sebuah keluarga dengan 5 orang anggota keluarga. Budidaya kambing PE ini sudah menunjukkan keberhasilan di beberapa daerah sehingga sangat potensial untuk dijadikan proyek nasional bagi negara kita yang mayoritas penduduknya masih sangat rendah status gizi dan kemampuan ekonominya.

Jadi, apa lagi yang perlu kita tunggu? Di satu sisi kita dapat menaikkan taraf kesehatan masyarakat dengan menyediakan sumber protein hewani yang halal dan thoyyib, dan menaikkan taraf ekonomi rakyat di pedesaan-pedesaan melalui usaha budidaya kambing ini. Di sisi lain kita dapat melestarikan salah satu sunnah Rasulullah yang telah banyak dilupakan orang di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Kita bisa mengambil pelajaran dari negara tetangga kita Malaysia yang telah sukses lebih dahulu dalam mempromosikan pentingnya peran susu kambing ini secara profesional[11].

Oleh karena itu sudah saatnya para ahli teknologi pengolahan pangan, ahli gizi, ekonom, ahli budidaya ternak dan jajaran pimpinan di pemerintahan memikirkan lebih serius lagi dan saling bekerja sama dalam memasyarakatkan peran penting susu kambing ini dan meningkatkan produksinya. Dalam hal ini ada dua hal penting yang perlu mendapatkan prioritas: peningkatan produksi susu dengan tetap memperhatikan kesehatan ternak dan lingkungan, dan peningkatan keamanan/higiene susu, terutama karena manfaat kesehatan susu kambing sangat berkurang akibat pemanasan, sedangkan pada umumnya untuk keamanan dan pengawetan produk susu perlu dipanaskan.

Karlsruhe (Jerman), 20 April 2003
——————————————————————————–
Footnote
[1] Al Qur’an dan Terjemahannya. Yayasan Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an Departemen Agama. (1971)
[2] Khalid, M. Kh.: Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah. Penerjemah: Mahyuddin Syaf dkk. Bandung: CV Diponegoro, p. 215-216 (1987)
[3] Haenlein, G.F.W.: Past, Present, and Future Perspectives of Small Ruminant Dairy Research. Journal of Dairy Science, 84(9): 2097-2115 (2001)
[4] Khalid, M. Kh.: Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah. Penerjemah: Mahyuddin Syaf dkk. Bandung: CV Diponegoro, p. 78-82 (1992)
[5] Kristanti, I.: Bila tidak tahan minum susu. http://pagihp.tripod.com/minmsusu.htm (1998)
[6] Walker, N.W.: Auch Sie können wieder juenger werden. Judul asli: Become younger. Muenchen: Wilhelm Goldmann Verlag, p. 58-64 (2002)
[7] Carper, J.: Nahrung ist die beste Medizin. Judul asli: The Food Pharmacy. Muenchen: Econ Ullstein List Verlag, p. 179-194 (2001)
[8] Walker, N.W.: Frische Frucht- und Gemuesesaefte. Judul asli: Fresh Vegetable and Fruit Juices. Muenchen: Wilhelm Goldmann Verlag, p. 120-122 (1995)
[9] Rachman, R.: Khasiat Susu dan Daging Kambing. Harian Kompas, 2 September 2002. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/02/iptek/khas35.htm
[10] Kambing PE Penghasil Daging Sekaligus Susu. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol. 23 (4), 2001. http://pustaka.bogor.net/publ/warta/w2345.htm
[11] http://www.m-sia.com/npdairies

Penulis: Indah Kristanti (nurulqolbu@web.de) Alhikmah.com

sudah lama nggak idup kaya gini, bengong, tidur, main dota, sesekali ngetik TA, sesekali ke perpustakaan pusat, nyontek TA senior, haha, hidup tanpa beban, mmm, hidup tanpa harus dikejar kejar order maksud saya, oh i smell freedom, i feel…useless, haha, bahagianya hidup ku seandainya saja saya lupa akademik :D. sekolah membunuh kreatifitas! haha, untuk apa pergi ke sekolah? untuk bertemu teman teman.

mau pulang kampung, belum beli tiket, udah abis belum ya? emak ama bapak udah marah marah, ngapa-ngapain itu jangan dipepet, udah tau mau lebaran mbok ya beli tiket jauh-jauh hari sebelumnya. begitu kata mereka. no mam, no pap, my life is well prepared. cuma saya nggak suka terikat. itu saja. kalo dapet tiket jauh hari sebelumnya kok rasanya gimanaa gitu. kaya ada jin minta gendong. nggak merdeka. beban. ntar waktunya pulang tinggal beli tiket. nggak dapet ya tinggal gimana ntar. pokoknya bisa nyampe rumah. beres. hha. tapi gw begini kalo lagi sendiri aja. kalo bareng orang itu cerita lain lagi. kan ada variable yang namanya tanggung jawab terhadap orang lain.

tipu daya uang kertas

Ketika menggunakan uang kartal sebagai acuan atau patokan nilai maka terjadi hal-hal berikut :

  1. Harga-harga naik padahal pada hakikatnya tetap atau turun
  2. Gaji/penghasilan naik padahal pada hakikatnya turun
  3. Kondisi makin makmur padahal makin miskin

Harga-Harga Naik Padahal Pada Hakikatnya Tetap atau Turun

Setiap orang pasti merasakan naiknya harga-harga barang, sayangnya di sekolah dan media-media diberitahukan kalau kenaikan ini terjadi karena inflasi (harga barang naik). Padahal bukan harga barang naik tapi daya beli uang kartal yang kita pegang turun.

Dengan memakai sistem uang kartal buatan yahudi ini yang nilainya turun terus, seolah-olah harga barang seperti naik terus. Padahal dalam ekonomi Islam tidak ada istilah inflasi karena dalam sistem keuangan Islam menggunakan dinar dan dirham sebagai alat bayar yang stabil.

Sebagai contoh bisa dilihat dari contoh-contoh sebagai berikut :

Tabel Perbandingan Harga Telur Tahun 1975, 1985 & 2010

Pada tahun 1975 harga sebutir telur rp 10, kemudian pada tahun 1985 harga sebutir telur naik menjadi rp 100 dan pada tahun sekarang 2010 harga sebutir telur naik lagi menjadi rp 1000. Padahal telur itu ya tetap, tidak berubah-ubah tapi koq kenapa harganya jadi berubah jadi naik terus?

Kira-kira berapa harga 1 butir telur 5 tahun ke depan? Ada 2 kemungkinan yang terjadi yaitu nilai angka di uang kertasnya diperbanyak dan gambarnya diubah (biar tidak kelihatan sama) atau telurnya diperkecil.

Sebagai  contoh yang lain adalah Perbandingan ONH (Ongkos Naik Haji) :

Dilihat dari tabel di atas, kalau menggunakan parameter (acuan) uang kartal maka biaya ONH dari tahun 1996 ke 2010 naik 493 % (hampir 5 kali lipat). Sedangkan kalau parameternya dinar malah turun 59 % (turun lebih dari ½ kali).

Gaji/Penghasilan Naik Padahal Pada Hakikatnya Turun

Dalam ekonomi sekuler, untuk melihat tingkat kemakmuran suatu negara dilihat dari PDB per kapita (Pendapatan per kapita) dengan mengacu kepada uang kartal (dollar/rupiah). Kenaikkan pendapatan per kapita suatu negara dianggap sebagai suatu hal positif.

Padahal pendapatan seseorang naik dalam rupiah/dollar tapi ketika dikonversi ke dinar (emas) pendapatannya malah turun. Inilah sistem keuangan sekuler yang menipu dengan uang kartalnya.

Dalam sistem ekonomi sekuler, kenaikkan upah tidak sebanding dengan Inflasi (tergerusnya nilai/daya beli uang) sehingga terjebak ke dalam permasalahan yang tidak ada ujung pangkalnya (krisis ekonomi).

Sebagai bukti, bisa dilihat dari tabel di bawah ini :

Dilihat dari tabel di atas, kalau parameternya uang kartal maka gaji pembantu naik 15 kali lipat (dari 20.000 menjadi 300.000) dan pegawai swasta naik 7,5 kali lipat (dari 400.000 menjadi 3.000.000). Padahal kalau memakai parameter emas (dinar) maka penghasilan pembantu turun 1/10 kali dan gaji pegawai swata turun 1/20 kali.

Bisa dilihat dari tabel bahwa gaji pembantu tahun 1975 sama dengan gaji pegawai swasta tahun 2010 yaitu 10 gram emas. Jadi, sebenarnya tahun sekarang ini lebih miskin daripada tahun 1975.

Tipu daya uang kartal bisa dilihat juga dari kenaikkan UMR (Upah Minimum Regional) dengan parameter (acuan) uang kartal.

Jika dikonversi dengan rupiah, nilai UMR terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebagai perbandingan, nilai UMR DKI jakarta tahun 2000 sebesar Rp 344.257 dan UMR DKI tahun 2009 adalah sebesar Rp. 1.096.865 atau naik 319 % (3 x lipat lebih).

Ketika  dikonversi dengan dinar malah turun. Pada tahun 2000 , UMR yang diterima pekerja masih cukup untuk membeli 1 ekor kambing atau 1 keping dinar dan masih menyisakan sejumlah uang tapi sekarang tahun 2009 sudah tidak bisa lagi.

Kondisi Makin Makmur Padahal Makin Miskin

Dalam sistem sekuler, untuk mengukur kemakmuran suatu wilayah, dilihat dari PDB (Produk Domestik Bruto) atau Pendapatan per Kapita. Nilai PDB ini mengacu kepada uang kartal yaitu dolar us. Dari grafik dan tabel di bawah ini bisa dilihat perbedaan PDB dengan acuan uang kartal dan dinar emas.

Perhatikan PDB dalam US$ di grafik tersebut, dengan ukuran (acuan) uang kartal nampak kenaikan PDB (Produk Domestik Bruto) dari US$ 1,237 (2005) menjadi US$ 1,600 (2009). Kalau diukur dengan dinar, ternyata malah turun dari 20 dinar (2005) menjadi 11 dinar (2009). Di sinilah tipu daya uang kartal.

Kesimpulan

Kalau parameter suatu sistem salah maka keseluruhan sistem akan salah. Jadi, kalau parameter sistem muamalah (perdagangan) itu bukan dengan dinar emas dan dirham perak maka keseluruhan sistem akan salah dan menipu.

Subhanallah, Allah Swt telah menciptakan emas dan perak sebagai tolok ukur/parameter/acuan sistem muamalah dalam menilai barang dan jasa sehingga terciptanya keadilan bagi seluruh umat manusia.

sumber : http://warungghuroba.wordpress.com/2010/07/22/37/

indonesia national anthem

selamat memperingati hari kemerdekaan hei kepada kalian semua, rasanya ini yang sekarang relevan jadi national anthem kita

indonesia tumpah darahku..
kekayaan mu milik negara..
disanalah aku berdiri..
tanpa sandang pangan dan papan..

indonesia tanah air ku..
tanah sawah ku di gusur orang..
kepada mu harus berbakti..
maaf sibuk harus cari nasi..

tetapi sunyi itu api..
yang menyala dan membakar bumi..
tetapi engkau lah hujan..
yang menyirami api..

lyric by panas dalam

selamat ulang tahun

selamat ulang tahun ibu, maaf telat ngucapinnya, kalau adek tidak sms tadi pagi, mungkin aku lupa mengucapkannya, seperti halnya aku lupa mengacapkannya kepada bapak. meskipun begitu, kalian tahu aku sayang kalian, sampai ketemu lebaran nanti :*

sahur

biasanya, beberapa menit menjelang sahur di bulan ramadhan, emak membangunkan dan  meminta saya untuk menemaninya ke dapur,  cuma menemani beliau menyiapkan makanan untuk sahur kami sekeluarga. bahkan beliau membuatkan saya tempat di dapur agar saya bisa tidur lagi. maklum rumah kami jarak antara tempat tidur dengan dapur cukup jauh dan belakangnya kebun, lalu sungai, lalu kuburan. setelah mekanan siap beliau membangunkan saya lagi untuk membangunkan bapak dan adek saya untuk sahur bersama sama.

selamat sahur…

mazhab

“haha, helm lu diiket segala ke motor, takut ilang ya?”

“enggak, cuma kasian aja kalo ada orang yang masuk neraka gara gara gw, na lu helm maen ditaro aja seenaknya, nggak takut ilang?”

“haha, masalahnya gw ngerasa nggak pernah punya, kenapa mesti takut ilang?”

“beda mazhab kita ya”

 


sponsor

twitter.com/pipinpramudia

  • Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Add to Technorati Favorites Locations of visitors to this page