Archive for the 'islam' Category

untuk pemuda dan pemudi

kawan kawanku yang berada dibawah lindungan dan kasih sayang Allah
berhati-hatilah dalam memilih kawan, dan pasangan, karena di luar sana banyak sekali musang berbulu domba, dan sebaliknya, domba berbulu musang. banyak sekali orang yang lahiriah dan tindak tanduknya adalah alim, namun hatinya munafik dan tidak terhormat, dan banyak juga yang lahir dan tindak tanduknya seolah tidak alim, namun hatinya selalu terpaut dengan Allah. dan dalam hati-hati yang saya maksud adalah, dengan menjaga diri kita sendiri, seseorang yang senantiasa menjaga kehormatan dirinya, Allah akan senantiasa menjaga dirinya dari orang-orang yang tidak terhormat, Dia akan hindarkan dirinya dari orang-orang semacam itu. dan begitu juga sebaliknya, orang yang tidak menjaga kehormatan dirinya, jangan bermimpi akan mendapatkan orang yang terhormat. namun juga ingatlah, kasih sayang Allah kepada kita sangatlah luas, selama hati kita terpaut kepadaNya. dan pintu tobatnya selalu terbuka lebar, selama nafas kita masih berhembus.

HANYA LELAKI AKHIR ZAMAN

share tulisan nemu di jalan…

Dia mungkin tak Rupawan,
Tapi bersamamu ia kan jadi yang Tertampan.
Dia mungkin bukan Jutawan,
Tapi berjuang denganmu membuatnya jadi Dermawan.
Dia mungkin Sederhana,
Namun dengan Dukungan darimu,
Ia kan tampil jadi Pemimpin Istimewa.

Dia bukanlah Lelaki Terbaik yang ada dalam Imajinasimu.
Bukan jua Pangeran berkuda putih yang ada dalam Bayanganmu.
Ia hanya Lelaki Biasa yang ingin jadi Luar Biasa.
Lelaki Akhir zaman yang ingin menjaga Iman dan Kehormatan
Maka terimalah ia dengan Keyakinan,
Atau tolaklah ia dengan Bijak dan Penuh Perhitungan.

Karena jika ada Lelaki Soleh yang ditolak lamarannya tanpa sebab yang Syar’i timbullah FITNAH.
Dan, belum tentu ada lelaki yang berani Melamarmu.
Lelaki yang berani Melamarmu.

Setidaknya ia punya 2 Sifat Baik: ..
Menikahimu bukan Memacarimu.
Yang kedua, Siap berTanggung Jawab atas Hidup dan Kehidupanmu…
Ya Rabb,,, Bantulah kami untuk mempertahankan TAQWA…
Untuk menjaga hati kami cukup berlabuh pada seseorang yang sangat mencintai_Mu..Aamiin…

cara wudlu sesuai rasulullah

wudlu sebagai bagian dari aktivitas ibadah, part of worshiping Allah, udah begitu juga lebih bersih dan hemat air, hayoo siapa yang wudunya cuma ciprat ciprat air doang? :))

bahtera

 

ibarat bahtera di luasnya samudera yang berlayar pada suatu tujuan, begitu pula bumi kita, bumi ibarat bahtera yang sedang berlayar pada luasnya samudera alam semesta, menuju suatu tempat untuk menghantarkan segala muatan yang berada di dalamnya, muatan yang baik akan di antar pada tempat yang baik yaitu surga, sedangkan muatan yang buruk akan diantarkan pula pada penyimpanan tempat yang buruk yaitu neraka, semoga kita selalu mengusahakan diri kita untuk menjadi muatan yang baik. amin

mujaddid

Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Daawud As-Sijistaaniy rahimahullah :

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ شَرَاحِيلَ بْنِ يَزِيدَ الْمُعَافِرِيِّ عَنْ أَبِي عَلْقَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِيمَا أَعْلَمُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Daawud Al-Mahriy, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengkhabarkan kepadaku Sa’iid bin Abi Ayyuub, dari Syaraahiil bin Yaziid Al-Mu’aafiriy, dari Abu ‘Alqamah, dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, yang mana aku mengetahuinya dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini di setiap awal 100 tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama ini.”

ketika kita mengetahui seorang mujaddid, sebaiknya kita mengikuti jalan mujaddid tersebut, demi islam, yakni islam yang rahmatanlilalamin. lalu siapakah mujaddid abad ini? yang mau tau, please come and meet me, mungkin kita bisa sharing dan berdialog.

terima kasih

“Shalat isya adalah stempel iman yang dicapkan di penghujung hari. Manusia yang memulai harinya dengan iman dari shalat subuh, akan mengakhiri harinya dengan keimanan sambil menempelkan stempel dari shalat Isyanya. Berharap akan wafat dengan keimanan ini dan dibangkitan pula dalam keimanan yang sama.”

untukmu duhai orang orang yang bermimpi

assalamualaikum

tahukah anda, bahwa berbaagi macam penyakit yang diderita manusia penyebab utamanya adalah karena stress. berdasarkan riset yang telah saya lakukan selama beberapa tahun, dan disertai dengan banyaknya pengalaman dalam menanggung beban hidup yang bertumpuk-tumpuk :)). berikut adalah analisa saya kenapa seorang manusia bisa stress :

1. banyak angan-angan dan merasa mampu / mandiri

stress ini kebanyakan menimpa orang-orang yang memiliki cita cita tinggi, terlampau tinggi, atau sangat tinggi. di sisi lain dia merasa seolah olah dia memiliki semua kemampuan untuk mencapai semua mimpi dan keinginannya itu. dan seiring berjalannya waktu mimpi yang dia kejar itu tidak kunjung terwujud, seiring berjalannya waktu dia merasa bahwa kemampuannya ternyata tidak cukup bagus bahkan mungkin kurang untuk mencapai semua mimpi besarnya itu, sehingga dia terjerumus dalam lubang depresi yang sangat dalam. stress lah dia.

2, malas

kita masih membicarakan orang tersebut diatas. orang yang memiliki mimpi yang tinggi. tapi usaha yang dilakukannya tidak sebanding dengan mimpinya. bahkan kadang tidak tahu langkah apa yang harus disusun dan harus dilakukan untuk mencapai mimpinya tersebut. hal hal yang menurut dia remeh di hiraukannya begitu saja, tidak dikerjakan, atau kalau ada yang lumayan penting, dia tunda, karena merasa tidak penting amat dan tidak punya kontribusi yang berharga sebagai batu loncatan untuk menuju mimpinya tersebut. lagi lagi, dua terjerumus dalam lubang depresi yang begitu dalam. kasian.

well bagitulah analisa saya, namun alhamdulillah, kita adalah orang islam, tidak ada masalah yang tanpa solusi, dalam islam, sebenernya hidup kita sangatlah sederhana, dalam mencapai mimpi atau untuk menuju sesuatu, yang diajarkan dalam islam sangatlah simple. usaha lalu doa lalu bertawakal. simple, saya coba analogikan secara sederhana

usaha

kita bangun tidur, sepagi mungkin, sholat subuh, setelah sholat subuh kita mengucapkan bismillah, dengan namaMu ya Allah, hari ini saya bekerja untuk mencari ridhomu, sebagai ibadah kepadaMu, maka berkahilah dan lancarkanlah hariku yang Allah. lalu kita berkerja apa saja yang kita rencanakan untuk hari itu, semaksimal mungkin yang kita bisa, berbuat sebaik mungkin untuk lingkungan sekitar kita. lalu kita pulang dengan kepayahan, dengan capek, dengan keringat yang sudah terperas, dengan perasaan penuh syukur bahwa kita sudah berusaha semaksimal mungkin hari ini.

berdoa

dalam kita bekerja, ada waktu waktu untuk sholat, dalam sholat itu kita sisipkan dan panjatkan doa dan mimpi kita kepada Allah, ya Allah ini lah mimpiku, keinginanku, hal hal yang akan membuatku bahagia, dan membahagiakan sekitarku, hal ini lah yang menurutkan akan membuatku lebih baik. kabulkanlah ya Allah, atau gantilah dengan yang terbaik menurut kehendakMu, engkaulah yang mengilhamkan mimpi ini, dan engkau pulalah yang akan membantuku untuk mencapai semua itu.

bertawakkal

setelah kita pulang bekerja setelah berpayah payah, sebelum tidur, menghadaplah kepada Tuhanmu, mungkin dalam sholat isya mu, atau setelah sholat witirmu, ya Allah, hari ini aku telah berusaha semampuku, maka rahmatillah aku ya Allah, mimpi yang mengganjal di kepalaku dan membuatku gelisah ini, aku titipkan kepadamu ya Rabb, aku kembalikan padamu, dan selalu sayangilah hamba.

maka setelah itu, tidurlah dalam tidur yang penuh dengan kedamaian. setelah berusaha maksimal, setelah berdoa, dan setelah bertawakal, maka Allah lah yang akan menolong mewujudkan mimpi mimpi kita tersebut. insyaAllah

wassalam

“tidak akan ada penyesalan setelah kita mengusahakan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan”

jatuh cinta

pertama kali baca risalah ketiga dari kitab Futuh al Ghaib karya Syaikh Abdul Qadir ini, saya merasa jatuh cinta

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo’a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo’a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo’a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha, bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya; makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Islam dan Syiar Dakwah Nusantara

nyontek tulisannya Ustadz Salim a Fillah, karena penting, mohon maaf tadz…

Islam. Betapa kata ini  sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah.

Adalah Imam Al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah kisah dari Thariq ibn Syihab, bahwa telah datang seorang laki-laki dari kalangan Ahli Kitab Yahudi kepada ‘Umar ibn Al Khaththab. Pria itu lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian dan kalian membacanya, sekiranya ayat itu turun kepada kami sungguh akan kami jadikan hari di waktu ayat itu turun sebagai hari raya tiap tahunnya”. Sayyidina ‘Umar bertanya kepadanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?” Lelaki Ahli Kitab itu menjawab,

“..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan atas kalian nikmat-nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian..” (QS Al Maidah [5]: 3)

Maka, Sayyidina ‘Umar menimpali, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu ketika hari Jumat bertepatan dengan hari ‘Arafah.”

Lihatlah betapa cemburu seorang Ahli Kitab, pada sebuah penyebutan dan penegasan yang gamblang dari Rabb semesta alam tentang agama yang diridhaiNya. Islam. Jadi nama risalah ini tersurat secara resmi di dalam ayat yang suci, sementara sejauh ini sulit menemukan agama lain yang mendapati namanya termaktub di kitab-kitab mereka. Umumnya, nama sebuah agama berasal dari penisbatan masyhur yang dilakukan oleh manusia dari sosok kunci atau ajaran.

Demikian pula sebutan untuk pemeluk agama ini, diumumkan dari langit dengan penuh kebanggaan, bahwa Allah sendiri yang memberi julukan sejak dahulu. Maka Islam adalah risalah seluruh Nabi dan Rasul, dan muslim adalah nama untuk para pengikut mereka di sepanjang zaman hingga kelak tiba masa pohon dan batu berbicara tentang musuh kebenaran yang bersembunyi di belakangnya.

“Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untuk kalian di dalam agama. Ikutilah agama bapak moyang kalian Ibrahim. Allah telah menamakan kalian sebagai para Muslim sejak dahulu, dan begitu pula dalam Al Quran ini, agar Rasul itu menjadi saksi atas kalian dan agar kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah pelindung kalian; sungguh sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al Hajj [41]: 78)

Ialah tali Allah yang terentang teguh menjadi pegangan ummat manusia sepanjang zaman. Maka untuk mewakili matarantai Islam dan Muslim itu, Allah memilih nama Ibrahim ‘Alaihis Salam kekasihNya. Inilah sosok yang ketika Allah perintahkan padanya, “Aslim.. Islamlah engkau!”, bergegas dia menyambut, “Aku berislam pada Rabb semesta alam.” Maka inilah agama yang mudah, luas, dan tegas. Inilah risalah yang sederhana, indah, dan menyejarah.

Bahwa pengertiannya sederhana; yakni sebersahaja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab ketika ditanya oleh Malaikat Jibril yang menyamar, apa itu Islam, dalam hadits panjang dari Sayyidina ‘Umar yang dibawakan oleh Imam Muslim. Adalah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berrumit-rumit dengan asal kata dan istilah. Tetapi menjawab dengan definisi ‘ilmiah yang ‘amaliah, “Islam itu bahwasanya engkau bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika memampuinya.”

Berpunca jaminan Allah “Kusempurnakan agama kalian” hingga makna ‘amal yang bersahaja dari Rasulullah inilah, kata “Islam” itu telah cukup, utuh, lagi menyeluruh.

Maka memberi sandaran berupa sebuah kata ataupun frasa di belakang kata Islam rasanya tidak perlu, juga merepotkan. Bahkan kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengannya menjadi “Islam Kaaffah” serta “Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin” telah bermasalah sejak pengambilan asalnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaaffah.” (QS Al Baqarah [2]: 108)

Dalam susunan ayat ini, kata “kaaffatan.. secara keseluruhannya” adalah kata keterangan untuk “udkhuluu.. masuklah kalian.” Jadi yang kaaffah adalah masuknya. Yakni masuklah secara kaaffah ke dalam Islam. Adapun kata “As Silm.. kedamaian” yang oleh Imam Ath Thabari setelah menyampaikan banyak riwayat tentang tafsirnya dari Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, As-Suddiy, Ibnu Zaid, dan Adh-Dhahhak disimpulkan sebagai “Islam”, di dalam ayat ini berdiri tunggal, tidak diberi sandaran apapun.

Sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Imam Al Baghawi bahwa ayat ini turun tentang sebagian Ahli Kitab yang ketika masuk Islam masih mengagungkan hari Sabtu dan bahkan meminta izin untuk tetap membaca Taurat dalam shalat dengan alasan bahwa ianya adalah Kalamullah; maka tuntutan ayat ini menunjukkan kesempurnaan dan kemenyeluruhan Islam yang menjadikan segala lain tak diperlukan sebab ia telah cukup lagi mencakup.

“Dan tidaklah Kami utus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’ [21]: 107)

Pun di ayat ini, kita mendapati bahwa frasa “rahmatan lil ‘aalamiin” adalah keterangan untuk “arsalnaaka.. Kami utus engkau”. Dengan demikian maknanya, rahmat semesta alam itu adalah Rasulullah. Sehingga gabungan kata yang menjadi simpulannya adalah “Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam rahmat bagi semesta alam”, dan bukan “Islam Rahmatan lil ‘Alamin.”

Ini sebagaimana yang disampaikan Imam Ath Thabari dalam Jami’ul Bayan maupun Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkamil Quran, bahwa; “Rahmat ini dalam makna umum dan merata bagi semuanya. Karena lafazh al ‘aalamiin menunjukkan makna mutlak dan menyeluruh, maksudnya rahmat untuk alam manusia, yang mukmin dan yang kafir; untuk alam Malaikat; rahmat untuk alam jin, yang mukmin dan yang kafir; dan rahmat untuk alam hewan.”

“Adapun rahmat untuk yang beriman, maka Allah telah memberikan hidayah kepada mereka, dan menanamkan iman ke dalam hati mereka. Kemudian juga memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat itu karena mereka telah mengamalkan ajaran yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan rahmat untuk orang-orang kafir, yaitu bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak langsung mengadzab mereka di dunia ini seperti Dia telah membinasakan orang-orang kafir sebelum mereka yang telah mendustakan para Nabi dan Rasul dengan penenggelaman dan pembenaman, melainkan menundanya hingga hari akhirat.”

Jadi, jika kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengan Islam telah bermasalah sejak pengambilan asalnya; kita akan lebih kesulitan lagi memberi argumentasi pada penisbatan Islam terhadap kata lain yang tak diambil dari Al Quran semisal “Liberal”, “Progresif”, atau juga “Timur Tengah” dan “Nusantara.”

***

Islam. Betapa kata ini sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah. Adapun jika kita mentafakkuri tentang Islam di Nusantara, ada hutang besar yang sudah seharusnya kita bayar. Ialah syi’ar dakwah, untuk, oleh, dan dari Nusantara bagi seluruh ummat manusia.

Meski Islam telah hadir di negeri ini sejak abad pertama Hijriah, terlacak dari surat menyurat antara Maharaja Sri Indrawarman dari Kerajaan Sriwijaya dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan dan ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, barangkali yang dapat kita catat sebagai masa dakwah paling intensif dan massif di jazirah ini adalah enam abad lalu. Untuk menyebutnya, dalam sejarah peradaban Islam kita dikenalkan dengan istilah Futuhat.

Futuhat inilah pembebasan yang dibawakan oleh Rasulullah dan para sahabat, sebagaimana Allah istilahkan bagi perjanjian Hudaibiyah; “Inna fatahna laka fathan mubiinaa.. Sesungguhnya Kami telah bukakan bagimu kemenangan yang nyata..” (QS Al Fath [48]: 1); kota Makkah “Fa ja’ala min duuni dzalika fathan qariibaa.. Maka Dia jadikan di sebalik itu kemenangan yang dekat..” (QS Al Fath [48]: 27); dan juga seluruh jazirah, “Idzaa jaa-a nashrullaahi wal fath, wa ra-aitannaasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa.. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.” (QS An Nashr [110]: 1-2)

Melihat ketiga peristiwa tersebut, sungguh indah bahwasanya Allah menunjukkan kepada kita metode-metode bagi Futuhat yang tidak tunggal, apalagi sebagaimana sering dituduhkan yakni melulu melalui peperangan. Tampak bahwa ia bisa berbentuk perundingan damai yang selepas itu membawa begitu banyak kebaikan, atau juga pengerahan kekuatan militer dengan pertumpahan darah yang amat minimal, dan pula perutusan-perutusan yang membawakan kabar gembira, peringatan, seruan, serta cahaya ini ke segala penjuru dunia.

Lalu apa nilai pencerahan yang ditawarkan oleh Futuhat ini? Mari kita kenang sebuah kalimat bersejarah. “Kami adalah kaum yang dibangkitkan Allah; untuk membebaskan manusia:

1) dari penghambaan kepada sesama makhluq, menuju peribadahan pada Khaliq semata.

2) dari sempitnya dunia, menuju luasnya akhirat.

3) dari kezhaliman agama-agama, menuju keadilan Islam.”

Jawaban indah ini menjadi syi’ar Futuhat. Mulai dari Sa’d ibn Abi Waqqash sang panglima besar, Al Mughirah ibn Syu’bah sang komandan lapangan, hingga Ribi’ ibn Amir si prajurit kecil dalam kesempatan berbeda menyatakannya dengan amat kompak kepada Rustum, panglima agung Persia dalam pertempuran Qadisiyah.

Maka “tangan Allah bersama jama’ah”. Jika Musa ‘Alaihis Salaam yang berkata “Inna ma’iya Rabbi sayahdin.. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk padaku” dibelahkan laut untuknya, hingga kaumnya menyeberang dalam takut diapit gelombang besar yang menggunung; pasukan Sa’d ibn Abi Waqqash bergandeng tangan menyeberangi lebar dan derasnya arus Dajlah dengan karamah yang membuat musuh terperangah. Selama tiga nilai Futuhat ini dipelihara; jadilah ia da’wah yang mencahayai semesta.

Tapi sejarah kita juga berisi pengalaman tentang bagaimana kiranya jika nilai-nilai Futuhat ini tidak dijaga.

Di Andalusia, saat raja-rajanya berrebut memperbudak kulit putih hingga jangat hitam dan rambut pirang hingga mata biru; kekuasaan 7 abad di sana jadi sedikit sekali membawakan ruh dakwah. Seperti digambarkan Ahmad Thompson dalam Islam in Andalus, kolam-kolam khamr direnangi dalam pesta, permainan optik dan air raksa menakutkan duta-duta Franka, bebangunan indah lagi rumit menjulang, ornamen-ornamen ukir dan keramik menakjubkan, pun Ziryab mengenalkan fine dining hingga mode pakaian tiap musim. Tapi bangsa keturunan Visigoth melihat itu semua sebagai lambang penjajahan.

alhambra-granada

Saat kuasanya rapuh dan antar penguasanya rusuh, Ferdinand dari Arragon dan Isabella dari Castillia memulai reconquesta. Satu per satu; Cordoba, Malaga, Huelva, Toledo, Sevilla, Almeria, dan akhirnya Granada jatuh. Maka tergulunglah muslimin nyaris tanpa sisa hingga bukit tempat sang Sultan terakhir menangisi lepasnya daulah terujung diberi nama “El Ultimo Sospiro del Moro”; desah nafas terakhir orang Mor. Dan hingga hari ini, Spanyol dan Portugal di semenanjung Iberia masih mencatatkan diri dalam tingkat Islamophobia yang amat tinggi.

andalusia_rondacanyon

Empat abad lamanya pula, muslim Mughal memerintah tiga perempat anak benua. Tapi seperti ditangisi Aurangzab Alamghir tentang Syah Jahan ayahnya; ketika cinta pada 1 perempuan mengorbankan 30.000 budak Hindu yang dibunuh sebakda diperas tenaganya untuk pembangunan kuburan mewah bernama Taj Mahal serta 3 tahun kas negara bangkrut dan pajak dipungut paksa demi pembangunannya. Hari ini, hanya sepuluh perratus kaum muslimin tersisa di negeri Bharata, India.

Adapun Nusantara ini diasasi berkah da’wah para Wali dan Sultan Demak. Inilah kesultanan yang mampu mengerahkan 300 kapal untuk berjihad melawan Portugis di Malaka; tapi bahkan sisa istananya tak ditemukan. Sebab, demikian menurut sebagian sejarawan, Sultannya amat bersahaja, hingga tempat tinggalnya pun tak jauh beda dengan rakyatnya. Ia menjadi kontras dengan Majapahit yang sudah lemah dan remuk oleh paregreg serta kesewenang-wenangan, tapi tetap bermewah-megah para penguasanya.

100_2727

Para Sultan inipun tunduk pada Majelis Syuraa para ‘Ulama di Masjidnya. Mereka, dengan gelar “Sunan” di depan nama, menjadi pelanjut dari generasi dakwah sebelumnya yang penuh hikmah. Dan sahibul hikayat berkisah, sejak catatan kelana Ibn Batuththah “Ar Rihlah” dihadiahkan Sultan Maroko kepada Muhammad I dari Daulah ‘Utsmaniyah di Turki, dengan penuh semangat sang Sultan-Ghazi mengirimkan da’i-da’i tangguh ke kepulauan ini.

Sebagai gambaran tentang betapa terrencana dan rapinya kerja tim Futuhat ini dalam merancang syi’ar dakwah Nusantara, sebuah Kropak rangkaian lontara yang tersimpan di Ferrara, Italia, ternyata mencatat isi rapat para Wali itu dan merangkum pengajaran-pengajaran yang mereka sepakati dalam mendakwahi masyarakat Jawa saat itu. Jauh sebelum itu, Het Boek van Bonang telah menjadi rujukan para sejarawan untuk melacak strategi dakwah yang dahsyat dari tim yang masyhur dikenal sebagai Wali Sanga ini.

Dahsyat, sebab, betapapun mereka belum sempurna menunaikan tugas dakwahnya, dan siapakah memangnya yang sempurna dalam dakwah selain Rasulullah; tapi hingga hari ini, belum ada lagi satu tim beranggotakan hanya beberapa mu’allim yang dalam waktu kurang dari 50 tahun atas izin Allah mampu menjadikan sebuah kerajaan besar yang tegak dengan Hindu dan Budha sebagai agama resmi, nyaris semua penduduk jazirah intinya bersyahadat. Belum lagi nantinya kita melihat, bagaimana pusat pendidikan mereka di Ampel, Giri, Kadilangu, Kudus, dan Cirebon  mendidik para calon ‘Ulama dan Sultan untuk Banten, Banjar, Mataram, Gowa, Ternate, Tidore, Bima, hingga Palembang.

Menyimak bagaimana misalnya Maulana Malik Ibrahim yang ahli irigasi dan persawahan menjawab persoalan pangan; bagaimana Maulana Maghribi I yang ahli ruqyah mengalahkan para dukun, klenik, tempat angker, dan sihir; bagaimana Maulana Ahmad Jumadil Kubra mendakwahi para penduduk gunung yang dikeramatkan; bagaimana Maulana ‘Aliyuddin dan Taqiyyuddin menekuni pengajaran di pelabuhan-pelabuhan; bagaimana Maulana ‘Ali Rahmatullah mendirikan sekolah kasatriyan di Ampeldenta untuk mengatasi krisis ketatanegaraan Majapahit; bagaimana Sunan Ngudung dan Maulana Ja’far Ash Shadiq menjawab persoalan strategi perang dan keprajuritan; hingga bagaimana Sunan Kalijaga menggubah budaya Islami untuk memassifkan tabligh; kita semakin takjub tentang bagaimana tim ini bekerja.

Maka inilah hutang besar kita, pada bangsa kita sendiri maupun dunia, sebuah syi’ar dakwah Nusantara.

Hutang terhadap diri sendiri sebab hari-hari ini kita berada di masa maraknya syi’ar namun sering tak terpimpin, tanpa arah, dan tak jelas hendak menuju mana dan meraih capaian apa; hingga kitapun susah menyebutnya “dakwah” apatah lagi “Futuhat”. Tak usah sejauh itupun, sejak kemerdekaan Republik Indonesia beberapa sensus telah digelar, dan prosentase jumlah ummat Islam terus menurun.

Litbang Kementerian Agama juga pernah merilis data, bahwa antara tahun 1970-an hingga 1990-an awal, buku-buku yang terbit di kalangan ummat Islam didominasi wacana Islamisasi pengetahuan, ekonomi Islam, hingga Politik Islam. Maka kitapun memanennya di akhir periode itu dengan tumbuhnya Ikatan Cendikiawan Muslim, ekonomi syari’ah, perbankan syari’ah, hingga kesadaran politik Islam.

Sebaliknya, antara tahun 1990-an akhir hingga hari ini, buku yang terbit kebanyakannya kembali mempertajam sisi-sisi khilafiyah furu’iyyah di kalangan ummat, antar ormas Islam, organisasi dakwah, dan antar harakah. Detail sekali peruncingan perbedaan itu hingga kitapun kembali memanennya dalam bentuk sensitifnya lagi soal-soal yang sebenarnya bertahun lalu telah diredam oleh para ‘Ulama dan Zu’ama dengan amat bijak.

Maka kalau hari ini dalam bingkai Islam Nusantara, tawassuth didengungkan dengan eksklusif seakan hanya kelompok kita yang moderat, tawazun didalilkan dengan jumawa seakan hanya kelompok kita yang seimbang, i’tidal dilanggamkan dengan nyaring seakan hanya kelompok kita yang tegak lurus, dan tasamuh didendangkan dengan nada tinggi seakan hanya kelompok kita yang toleran; kita justru sungguh khawatir ada bias terhadap syi’ar dakwah Nusantara yang menyentuh hati, merangkul, melayani, menyatukan, dan memberdayakan.

Belum lagi hutang kita pada Sultan Muhammad I yang mengirim da’i-da’inya ribuan mil, juga hutang kita pada para ‘ulama yang menempuh perjalanan jauh dan berbahaya, dan ukhuwah Islamiyah Mesir hingga Palestina yang diunjukkan penuh bangga mendukung kemerdekaan Indonesia. Seperti kaidah “Pay It Forward”, kita tertuntut pula membayarnya dengan membawa syi’ar dakwah Nusantara ini pada Eropa, Amerika, Australia, hingga Cina. Bahwa hari-hari ini, komunitas muslim Nusantara di berbagai negeri kian menunjukkan peran dakwah mereka bersama saudara-saudaranya dari berbagai bangsa, semoga ianya bagian dari kabar gembira untuk masa depan.

Sebagai penutup, izinkan kami menyampaikan sebuah kisah.

Imam Muhammad Abu 'Anzah (berblangkon) dari Gaza mengimami Tarawih di Jogokariyan.

Suatu saat kami sedang duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya“, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama dan Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaallah.”

segala sesuatu tentang cinta

Kalian berkata : “cinta tidak tergantung pada kehendak dan ikhtiar kita tetapi karena tuntutan fitrah kita. saya misalnya mencintai makanan yang lezat dan buah buahan yang baik. saya juga mencintai orang tua, anak-anak, dan isteri. saya mencintai kekasih dan sahabat. saya mencintai para nabi dan wali. saya mencintai masa muda dan kehidupanku. saya pun  mencintai musim semi dan segala sesuatu yang indah serta dunia. bagaimana mungkin saya tidak mencintai semua ini? bagaimana saya mampu mempersembahkan seluruh rasa cinta ini kepada Dzat, nama-nama, dan sifat-sifat Allah swt? apa makna dari semua ini?

sebagai jawabannya kalian harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

pertama
meskipun rasa cinta tidak muncul karena kehendak dan ikhtiar kita, namun dengan ikhtiar yang ada arahnya bisa diubah dari kecintaan pada suatu obyek menuju pada obyek yang lain. Misalnya ketika keburukan dan hakikat dari sesuatu yang dicintai telah tampak, atau ketika diketahui bahwa ia menjadi penghalang atau cermin bagi Kekasih hakiki yang layak dicintai, arah cinta bisa dialihkan dari kekasih yang hanya bersifat metafora kepada kekasih hakiki.

kedua
kami tidak menyuruh agar engkau tidak mencintai semua yang engkau sebutkan tadi, tetapi kami hanya berpesan agar cintamu terhadap apa yang kau sebutkan tadi adalah demi Allah dan karena cinta kepada-Nya. Misalnya mencintai makanan yang enak, buah-buahan yang segar dari aspek karunia Allah dan anugerah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang merupakan bentuk rasa cinta terhadap nama ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan al-Mun’im (Yang Maha Memberi nikmat). Ia merupakan bentuk syukur maknawi. yang menjadi petunjuk bahwa cinta ini bukan untuk memenuhi hawa nafsu; tetapi nama Ar-Rahman, adalah mencari rezeki yang halal disertai eprasaan cukup dalam batas-batas yang dibenarkan oleh agama dan memakannya dengan merenungkan rasa syukur.

Demikian halnya dengan kecintaan dan penghormatanmu kepada orang tua adalah demi rahmat dan kebijaksanaan kepada mereka perasaan kasih sayang sehingga mereka mau mengasuh dan mendidikmu dengan penuh kasih sayang dan bijaksana adalah milik Ilahi. Tanda cinta tadi ditujukan kepada Allah swt. engkau lebih banyak mencintai dan mencurahkan kasih sayang kepada mereka ketika mereka sudah tua, tidak ada lagi faedah bagimu dari mereka dan emreka menjatuhkan engkau dalam kesulitan. Allah berfirman

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sudah berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan pula membentak mereka. Namun, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayangdan berdoalah, “Wahai tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil (QS Al Isra/17:23-24)

Ayat diatas mengajak seluruh anak untuk memelihara hak orang tua dalam liima tingkatan. hal ini menunjukkan betapa pentintg berbakti kepada orang tua berikut buruknya sikap durhaka kepada mereka dalam pandangan Al-Qur’an,

Seorang ayah biasanya tidak mau seseorang lebih baik daripadanya kecuali oleh anaknya. sebagai balasan anak tidak boleh menuntut hak kepada ayahnya. jadi secara fitrah tidak ada pertengkaran antara anak dan kedua orang tua karena pertengkaran muncul dari dengki dan hasad. ayah tidak akan merasa dengki kepada anaknya. ertengkaran bisa juga bersumber dari kesalahan. anak tidak berhak untuk menuntut ayahnya. Bahkan jika ia melihat ayahnya berbuat kesalahan sekalipun, ia tetap tidak boleh memberontak dan mendurhakainya. artinya, siapa yang berdurhaka kepada orang tuanya serta menyakiti mereka berarti ia manusia yang telah berubah menjadi binatang buas.

mencintai dan melindungi anak dengan penuh kasih sayang dan belas kasih lantaran mereka merupakan karunia tuhan Yang Maha Penyayang dan Pemurah yang menjadi milik Allah SWT. Tanda yang menunjukkan bahwa cinta abadi tadi demi Allah SWT adalah bersabar disertai rasa syukur ketika sang anak meninggal tanpa menjerit dengan putus asa. seolah-olah ia berkata “makhluk ini adalah yang dicintai dan diberikan kepada penjagaan saya oleh Sang Pencipta. sekarang, kebijaksanaanNya memutuskan untuk mengambilnya kembali dariku ketempat yang lebih baik. Jika ada satu bagian jasaku yang tampak padanya, Allah Swt memiliki ribuan jasa hakiki terhadapnya. karena itu, sudah selayaknya rela menerima ketentuan Allah dengan ucapan al-hukmuliLLAH (ketentuan itu milik Allah)

bersambung…


sponsor

twitter.com/pipinpramudia

  • Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Add to Technorati Favorites Locations of visitors to this page